Penulis: Hendra Mokorowu
Minahasa, inatara.com — Universitas Negeri Manado (Unima) melalui Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) mengimplementasikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM). Kali ini lokasi pesisir pantai Kombi jadi target. Demikian Dosen Prodi PGSD FIPP Unima, Yusak Ratunguri saat dihubungi inatara.com, Selasa (3/11l).
“PGSD Unima memilih desa Lalumpe dan desa Kayubesi, kecamatan Kombi, kabupaten Minahasa sebagai lokasi pelaksanaan PKM. Kegiatan ini melibatkan puluhan mahasiswa PGSD yang dibagi dalam dua kelompok, untuk melaksanakan berbagai program edukasi bagi guru, siswa dan masyarakat,” ujar Ratunguri, yang juga sebagai dosen pendamping pada PKM tersebut.
Adapun, mahasiswa PGSD Unima dibagi menjadi dua kelompok. Sebanyak 32 mahasiswa diterjunkan ke desa Kayubesi. Sedangkan 52 mahasiswa lainnya melaksanakan kegiatan di desa Lalumpe dan SD Negeri Lalumpe. PKM ini dilaksanakan pada 30 Oktober 2026. Ia mengatakan, pemilihan lokasi PKM tersebut merupakan bentuk perhatian terhadap sekolah-sekolah di wilayah pinggiran. Sebab, selama ini dinilai belum mendapatkan perhatian dan kesempatan pengembangan yang merata.
Menurutnya, sekolah-sekolah di perkotaan relatif lebih sering mendapatkan program pengembangan, kunjungan dari berbagai perguruan tinggi. Bahkan, banyak kesempatan mengikuti berbagai kegiatan pendidikan. Kini, tidak sedikit sekolah perkotaan yang telah berkembang hingga ke tingkat nasional.

“Termasuk ketika kita mengirim mahasiswa untuk PPL (praktik pengalaman lapangan, red) atau magang, semuanya selalu berpusat di perkotaan. Sementara sekolah-sekolah di wilayah pinggiran sering terabaikan, apalagi yang berada di daerah pesisir,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, salah satu program utama PKM kali ini adalah pelatihan penggunaan alat peraga dan perangkat pembelajaran sains bagi guru-guru di sekolah wilayah pesisir. Peralatan yang digunakan memang relatif sederhana. Akan tetapi telah menggunakan teknologi modern untuk mendukung proses pembelajaran. Ia menilai, ada kemungkinan sejumlah alat peraga belum dimanfaatkan secara optimal para guru karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam mengoperasikannya.
Selain pelatihan bagi guru, tim PKM PGSD Unima juga memberikan edukasi kepada masyarakat desa Lalumpe mengenai pentingnya menjaga kelestarian ekosistem pesisir, khususnya tanaman mangrove. Kata dia, keberadaan mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pantai. Selain membantu memperkokoh kawasan pesisir, tanaman mangrove juga menjadi salah satu habitat penting bagi berbagai biota laut, termasuk tempat ikan bertelur dan berkembang biak.
“Ketika mangrove terlindungi, otomatis ekosistem di wilayah pesisir akan seimbang. Sebaliknya, jika mangrove tidak dijaga, hal itu akan berpengaruh terhadap sumber daya ikan yang ada di pantai,” jelas Ratunguri.

Ia menambahkan, edukasi mengenai lingkungan tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan pembelajaran di sekolah dasar (SD). Kebanyakan, proses pembelajaran terkadang masih terlalu berorientasi pada buku ajar. Bahkan tidak jarang menggunakan bahan pembelajaran yang sudah tidak diperbarui. Melalui kegiatan PKM ini, mahasiswa dan para guru diberi pemahaman kalau sumber belajar tidak hanya berasal dari buku maupun ruang kelas. Tetapi juga dapat diperoleh dari alam, misalnya di lingkungan sekitar.
“Media pembelajaran itu bukan hanya berasal dari buku ajar di ruang kelas. Lingkungan juga merupakan media belajar. Salah satunya adalah bagaimana mengenalkan kepada siswa pentingnya menjaga kelestarian tanaman mangrove di wilayah pesisir,” katanya.
Di lokasi berbeda, yaitu di desa Kayubesi, mahasiswa PGSD Unima yang terlibat dalam PKM turut melaksanakan kegiatan penanaman bibit pohon jenis nantu. Bibit tersebut diperoleh melalui bantuan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Manado. Dikatakannya,pihak sekolah menyambut positif kehadiran tim PKM PGSD Unima. Kepala SD Negeri Lalumpe pun menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan melalui program tersebut.
“Pihak sekolah menilai kegiatan PKM ini dapat menambah wawasan guru dan peserta didik. Khususnya dalam mengembangkan proses pembelajaran yang lebih kreatif dan kontekstual. Kehadiran tim dari PGSD Unima juga membuat pihak sekolah merasa dihargai dan mendapat perhatian dari perguruan tinggi,” akunya.

Ia menambahkan, momentum PKM ini juga menjadi kesempatan penting bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung di lapangan. Melalui praktik tersebut, mahasiswa diharapkan tidak lagi merasa kaku ketika nantinya melaksanakan PPL di sekolah dasar. Mahasiswa telah dibekali berbagai materi dan pelatihan sebelum diterjunkan ke lokasi PKM. Pembekalan tersebut mencakup teknik mengajar di sekolah, penggunaan alat peraga, pemanfaatan media pembelajaran, pendekatan pembelajaran hingga cara mengedukasi masyarakat.
“Mahasiswa ini merupakan calon guru yang harus siap menghadapi peserta didik. Sebab itu, mereka tidak cukup hanya belajar teori di dalam ruang kuliah. Akan tetapi, harus belajar turun langsung ke lapangan,” tegasnya.
Ratunguri yang juga sebagai Koordinator PPL PGSD Unima ini berharap, melalui program PKM tersebut, mahasiswa semakin memiliki kesiapan, pengalaman dan keterampilan dalam menghadapi dunia pendidikan. Sekaligus mampu menjadi calon pendidik menguasai materi pembelajaran. Bahkan memiliki kepekaan terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
Di lain kesempatan, salah satu mahasiswa PGSD FIPP Unima, Jesicha mengakui, lewat PKM itu, dirinya mendapatkan pengalaman berharga. Utamanya melatih kemampuan mahasiswa dalam membangun interaksi dan kerja sama dengan masyarakat. Menurut dia, melalui kegiatan penanaman pohon dan aksi membersihkan lingkungan, mahasiswa tak hanya memperoleh pengalaman praktik. Tetap, bisa memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui aksi jelas.

“Kami memperoleh pengalaman secara langsung berinteraksi dengan masyarakat. Kami juga belajar bekerja sama melalui aksi nyata, misalnya melakukan penanaman pohon dan membersihkan lingkungan. PKM ini memberikan pengalaman bahwa menjaga lingkungan bukan cuma teori, tapi harus dilakukan melalui tindakan nyata,” papar Eci, panggilan akrabnya.
Diakuinya lagi, kegiatan tersebut juga memberikan manfaat bagi pengembangan diri mahasiswa. Menurut dia, mahasiswa memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Seba itu, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan sosial dan lingkungan menjadi salah satu bentuk penerapan pengetahuan yang diperoleh dalam perkuliahan.

“Sebagai mahasiswa, saya memperoleh pengetahuan, kepekaan, kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Kegiatan ini memberikan pengetahuan kepada kami bahwa mahasiswa memiliki peran dalam memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” simpul Eci.
Ia pun menggambarkan, ketika mahasiswa turun ke lokasi PKM, masyarakat justru memberikan respons yang baik. Masyarakat menyambut dengan antusias serta memberikan dukungan terhadap edukasi mengenai pentingnya penanaman pohon dan menjaga kebersihan lingkungan. Respons positif itu menunjukkan, kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan.


