Penulis: Rikson Karundeng
Kotabunan – Pagi ceria Bumi Bolaang Mongondow Timur (Boltim) baru mulai merekah. Sam Sachrul Mamonto turun dari podium. Usai memimpin apel pasukan ‘Operasi Lilin Tahun 2021’, di lapangan Polres Boltim, Kamis, 23 Desember 2021.
Kemeja tactical hitam berpadu celana sewarna, menempel di badan. Sebuah isyarat, hari itu kepala daerah Boltim ini akan turun lapangan. Military boots yang terpasang kencang di kaki, meyakinkan hal itu.
Usai menyapa para pejabat forum komunikasi pimpinan daerah dan para peserta apel, Sachrul langsung bergegas melangkah. Kendaraan dinasnya bergerak ke arah utara.
Tak sampai dua puluh menit, iring-iringan kendaraan bupati Boltim dan rombongan berhenti di jalur antara desa Buyat dan desa Bukaka. Wilayah depan Boltim yang berbatasan dengan Kabupaten Minahasa Tenggara.

Jalan itu ternyata baru selesai dikerjakan. Bupati Sachrul turun langsung untuk memastikan fasilitas publik ini benar-benar dikerjakan sesuai bestek. Baginya, ini pekerjaan penting. Untuk meyakinkan, infrastruktur yang dibangun bagi kepentingan masyarakat benar-benar berkualitas sehingga memberi dampak positif dalam waktu yang panjang.
Tak heran jika nada-nada tegas mengalir darinya. Instansi teknis dan pejabat terkait, serta pihak kontraktor, jadi sasaran warning. Proyek ini harus bisa dijamin kualitasnya.
Mungkin tak soal jika pekerjaan tidak terlalu berkualitas. Toh, pemerintah bisa saja tak membayar sisa nilai proyek yang harus dituntaskan ke pihak ketiga. Tapi bukan itu logika yang ada di kepala Sachrul. Baginya, tak ada alasan, fasilitas publik harus berkualitas. Karena mengabaikan proyek ‘asal-asal’ akan merugikan negara, terutama masyarakat. Sebagai kepala daerah, ia berpikir wajib untuk memastikan itu.
TERKETUK MEMORI MASA KECIL
Agenda tinjau proyek, tuntas. Langkah mengejar tanggung jawab dilanjutkan. Kali ini, rombongan bupati tak balik ke arah semula. Mereka terlihat melanjutkan kendaraan ke Desa Bukaka, Kecamatan Kotabunan.
Iring-iringan kendaraan sedang menanjak sebuah bukit, tiba-tiba mobil yang ditumpangi bupati Sacrul berhenti. Otomatis, kendaraan lainnya ikut berhenti di daerah hutan.
Sachrul turun dari mobil, diiringi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Boltim, Samsudin Dama, yang terlihat duduk bersama Sachrul di kendaraan itu. Ketika menyentuh jalan, ia langsung mencari-cari sesuatu di tanah.

Sebuah batu kecil digenggam, kemudian dilemparkan ke arah sebuah pohon. Ternyata, ia menyasar sarang ofu (tawon).
Sasaran memang tak kena, tapi Sachrul tampak tertawa lepas. Samsudin, supir dan ajudan bupati, bahkan mata lain yang ikut menyaksikan peristiwa itu, ikut terkekeh-kekeh.
“Dapa inga waktu kacili. Kalu dapa lia sarang ofu, lempar kong lari,” kata Mamonto sembari melempar tawa.
Pemandangan sarang tawon yang menggantung di atas dahan, ternyata membuat memori masa kecilnya terpantik. Ia memang tampak tak bermaksud mengenai sasarannya. Tak mau mengganggu mahluk kecil itu. Hanya sekedar mengenang masa kecil.
Gelak tawa mengulik emosi, cukup menjadi suplemen penambah semangat bagi Sachrul di tengah padatnya jadwal kegiatan. Tampak benar, ia semakin bersemangat ketika melanjutkan perjalanan.
“Pak Bupati ingat memori masa kecil di daerah tempat ia dibesarkan. Ini mau menggambarkan bahwa beliau juga sosok yang sama dengan masyarakat kebanyakan di Boltim. Saat kecil, ia seperti anak-anak Boltim lain yang suka ke kebun, hutan. Bermain dengan sesuatu yang sederhana, tapi penuh petualangan dan tantangan. Menyatu dengan tanah ini. Itu mengapa ia sangat paham dengan daerah Boltim,” ucap Sadam ke sejumlah aparatur sipil negara yang ikut dalam rombongan.
MENANGKAP POTENSI ‘HARTA KARUN’ BOLTIM
Perjalanan dilanjutkan. Sekira lima menit berlalu, kendaraan bupati kembali berhenti. Sachrul turun dan menatap sebuah bukit yang berdiri tak tarlalu jauh dari pandangannya.
Kali ini ia tak melihat sarang tawon. Sachrul menatap serius sebuah potensi menjanjikan bagi daerah Boltim yang ia cintai.
Bukit itu dikenal masyarakat Kotabunan dan sekitarnya dengan nama ‘Batu Pinupul’. Sebuah pemukiman tua masa lampau.

Tak hanya tampak unik dan menarik karena berdiri sendiri di antara deretan pegunungan lainnya, ‘Batu Pinupul’ sesungguhnya menyimpan banyak kisah menarik. Sejarah dan legenda Kotabunan, bahkan Tanah Totabuan, banyak yang terkait dengan situs ini.
Di daerah inilah Inde’ Dou’, sosok leluhur legendaris di wilayah adat Bolaang Mongondow (Bolmong) dahulu bermukim. Peradaban masa lampau Bolmong, tergurat jelas di kawasan ini.
“Daerah seputar Batu Pinupul, bagus jika kita tata menjadi kawasan wisata,” ucap Mamonto.
Hawa keyakinan terekspresi dari wajah dan gestur Sachrul. Matanya tak salah. Tanah Boltim memiliki banyak pontensi wisata yang bisa dikembangkan dan mendatangkan efek positif bagi daerah, dan bagi masyarakat. ‘Harta karun’ yang bisa dikelola berkelanjutan.
Angan itu bukan tak mungkin diwujudkan. Mengingat visi, misi, dan komitmen ‘Ksatria Boltim’ ini sangat besar dalam mengembangkan dunia pariwisata. Sebuah sektor yang dianggapnya penting untuk dikembangkan dan memberi dampak kesejahteraan bagi rakyatnya.
“Bagus dibikin jalan. Bisa jadi tempat menyaksikan salah satu titik keindahan alam Boltim yang khas. Bisa jadi kawasan sports tourism, panjat tebing. Di Boltim memang banyak potensi,” ujarnya.
MENDENGAR JERIT KELUH RAKYAT
Wilayah pegunungan tuntas dilewati. Bupati Sachrul dan rombongan pun memasuki kawasan pertambangan, Dusun 5 Desa Kotabunan induk.
Di Panang, Sachrul singgah di rumah orang tua adat, Arsad Mokoagow. Tetua Boltim yang biasa disapa Aki’. Ia hendak menyapa, memberi hormat, dan mendengar aspirasi. Bahkan mungkin nasehat dari tetua adat.

Beberapa waktu sebelumnya, Bupati Sachrul ternyata telah menangkap informasi. Banyak warganya di daerah Panang sering mengeluh. Kali ini, ia benar-benar ingin mendengar langsung jerit tangis yang sering mengusik tidurnya.
Warga yang berkumpul di rumah Aki’, satu per satu bertutur. Sacrul yang didampingi wakil rakyat Samsudin Dama, dengan sabar mendengar kisah-kisah pedih mereka.
Usulan-usulan warga langsung direspons. Salah satunya soal listrik.
“Untuk jaringan listrik, langsung usulkan ke PLN. Tapi semua ada aturan. Sebab wilayah ini sekarang masuk IUP (Izin Usaha Pertambangan) PT ASA,” kata Mamonto.
“Ini aspirasi masyarakat, Pak Bupati. Kasihan dorang harus bayar listrik lima ribu rupiah setiap hari. Bagi masyarakat yang hidup cukup, mungkin ini kecil. Tapi bagi masyarakat di Panang, jelas sangat memberatkan,” sambung Samsudin, yang akrab disapa warga dengan Sadam.

Persoalan lain yang tak kalah penting adalah soal status pemukiman warga Panang. Usulan mereka, sebagian yang masuk lahan HGU (Hak Guna Usaha), tidak seenaknya diambil perusahaan tambang yang melakukan eksploitasi di wilayah tersebut. Kalau pun diambil, harus ada ganti untung karena itu tanah adat.
“Soal itu saya akan pasang badan. Kalu kita pe rakyat pe tampa tinggal dorang mo ambe paksa, biar lei mo baku bunung. Kita akan maju, kita akan berjuang bersama. Kita mo lapas ini baju bupati, karna ini baju rakyat yang kase,” tandas Mamonto di hadapan Camat Kotabunan, anggota BPD Kotabunan, dan warga Dusun 5 Kotabunan yang hadir.
Di Panang, Bupati Sachrul juga menyempatkan diri untuk bersua langsung dengan para penambang. Bercakap tetang hidup dan keseharian mereka.
“Berapa penghasilan sehari?” tanya Mamonto kepada Hairun, salah seorang penambang.
Pria yang juga dikenal mahir sol sepatu itu, dengan wajah haru berdiskusi bersama figur kebanggaannya. Ada keyakinan dalam kalbu, sosok yang sedang merangkulnya ini akan bisa mendengar harapan dan kerinduan dirinya dan penambang lainnya.

Warga tampak gembira boleh bersua dengan Sachrul. Mereka histeris. Diiringi linangan air mata, mereka memeluknya. Sang Bupati pun tampak merangkul erat rakyatnya dengan penuh cinta.
Semua keluh didengarnya. Sambil mengajak warga satu per satu untuk mengambil foto bersama.
Bagi Sachrul, foto itu bukan sekedar pelepas rindu. Apalagi sekedar pencitraan. Baginya, ini akan jadi pengingat, bahwa ada warganya yang sangat membutuhkan uluran tangan. Ada rakyatnya yang selalu rindu untuk menyampaikan aspirasi. Sebagai pemimpin, ia bertanggung jawab untuk berjuang sampai penghabisan, demi mewujudkan harapan rakyat.
“Saya mendengar ada warga sini yang belum punya rumah. Segera akan saya meminta dinsos (Dinas Sosial) mendata, agar mereka bisa dapat bantuan,” kata Mamonto.

Mendengar ucapan Sachrul, air mata sejumlah warga tampak kian mengucur. Mereka mendendangkan syukur. Kalimat doa langsung mengalir. Mereka mendoakan Bupati Sachrul dan keluarga, bersama wakil rakyat Samsudin Dama, agar tetap diberkahi dan dimampukan untuk memimpin dan memastikan Boltim makin maju dan sejahtera.
“Sebagai wakil rakyat di daerah ini, saya sangat mengapresiasi Pak Bupati yang menunjukkan kepeduliannya terhadap rakyat. Tanpa sekat, ia bertemu langsung, mendengar cerita dan berpelukan dengan warga. Sebagai penyambung lidah rakyat, saya akan mengawal aspirasi ini. Saya juga akan turut menjaga Pak Bupati untuk memastikan visi misinya bagi Boltim terwujud, sesuai keinginan dan doa masyarakat kepada beliau,” ucap Sadam.
Sachrul terlihat masih kerasan untuk berlama-lama bersama warga Panang. Namun, tugas panggilan rakyat hari itu masih menantinya. Usai menghadiri pesta nikah di desa Tombolikat, ia masih harus menghadiri pelantikan Sangadi (Kepala Desa) Jiko Molobog.
“Agenda Pak Bupati memang padat. Sibuk, tapi masih menyempatkan diri hadir di pesta nikah walau sejenak. Beliau sering mengatakan, bukan nda mo hadir di pesta, cuma harus mengurus banyak agenda rakyat. Sampai jam dua subuh harus melayani rakyat, pagi-pagi so ada masyarakat lei di rumah. Jadi pesta bukan tidak penting, tapi menurutnya harus mengutamakan masyarakat yang membutuhkan pelayanan,” ungkap Sadam kepada sejumlah jurnalis.

Hari yang penuh agenda pasti membuat tubuh Sachrul penat. Walau demikian, komitmen untuk melayani masyarakat membuat ia bersuka hati menikmati tanggung jawabnya sebagai pemimpin rakyat.
Di penghujung malam itu, Sachrul boleh menyelipkan senyum syukur dalam doanya. Tatkala mendengar warga Panang juga bersukaria menyambut kehadiran pimpinan PLN, yang langsung datang ke pemukiman mereka usai ia meninggalkan tempat itu. Dalam benak membuncah keyakinan, setetes keringatnya akan sangat bermanfaat bagi kehidupan rakyatnya. (*)



