Penulis: Raiza Makaliwuge
Tomohon – Kehadiran guru bagi siswa berkebutuhan khusus di sekolah umum sangat penting. Hal itu dituturkan Dani Lantang, salah seorang guru ‘spesial’ di kota Tomohon. Alasannya, di setiap sekolah umum rata-rata terdapat siswa-siswa yang memiliki kebutuhan khusus.
Pengalaman yang ia dapat, walaupun sekolah itu tidak berstatus sebagai sekolah inklusif atau sekolah yang bisa menerima murid berkebutuhan khusus, tetap memiliki siswa yang berkebutuhan khusus.
Ia mencontohkan di SD Inpres 4/82 Walian, Tomohon. Di sekolah tempat ia mengabdikan diri ini memiliki tujuh siswa yang kesulitan menulis dan membaca.
“Di kelas Satu ada dua orang siswa, kelas Dua ada dua orang siswa, dan kelas Tiga ada tiga orang siswa,” kata Dani, Selasa (06/06/2023).
Guru yang mengajar siswa berkebutuhan khusus ini juga mengungkapkan, di sekolahnya ada satu anak kelas Dua dan satu di kelas Satu yang tidak memiliki kesulitan dalam akademik, melainkan ke perilaku sosial.
“Kalau yang satu dia suka berteriak di kelas, mudah marah ketika diganggu. Cara melawannya tidak dengan fisik secara langsung, tapi dengan teriakan. Dan ada anak yang satu kesulitan bicara. Bicaranya tidak terlalu jelas dan kemampuan menangkapnya juga kurang,” tutur Dani.
Walau rata-rata sekolah terdapat siswa berkebutuhan khusus, namun menurutnya tenaga pendidikan yang berlatar belakang pengajar kebutuhan khusus masih kurang.
“Di Tomohon misalnya, setahu saya masih terbatas. Guru yang memiliki kompetensi mengajar untuk siswa berkebutuhan khusus, ada dua senior di SD Negeri 2 Tomohon dan saya di SD Inpres 4/82 Walian Tomohon,” ujarnya.
Berkisah tentang pengalamannya, Dani menuturkan bagaimana ia membantu beberapa anak yang kesulitan membaca dan menulis. Untuk siswa yang kesulitan membaca, ia fokus mengajarkan membaca. Ia melatih dan mengajarkan cara-cara membaca yang baik dan benar secara mendalam.
“Begitu juga yang kesulitan menulis. Mereka dilatih agar bisa menulis. Contoh, sehari itu khusus tiga huruf, A, B, C. Dilatih sampai jadi. Jika sudah bisa tiga huruf itu, berikut lanjut lagi sampai dia bisa menulis A sampai Z. Jadi dilatih secara mendalam,” ungkap Dani.
Dijelaskan juga, di SD Inpres 4/82 Walian mereka memisahkan murid yang berkebutuhan khusus untuk belajar sendiri. Karena kurangnya ruangan, mereka menggunakan ruang Unit Kesehatan Siswa (UKS) sebagai tempat belajar.
“Untuk pelajaran khusus, mereka dipisahkan. Dan dalam proses belajar tidak boleh terlalu lama. Sekali pertemuan, satu jam. Atau paling kurang tiga puluh menit,” kata Dani yang sejak S1 hingga pendidikan S2 yang sedang dijalani kini, tetap fokus pada pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Ketua komunitas peduli disabilitas ‘Mahkaria’ ini berpendapat, siswa berkebutuhan khusus sangat penting diperhatikan, karena mereka juga bagian dari generasi bangsa. Ia pun berharap pemerintah dan dinas pendidikan bisa memberikan perhatian lebih soal status sekolah-sekolah yang memiliki murid-murid berkebutuhan khusus.
“Perlu juga ada perekrutan dari pemerintah untuk guru-guru yang berlatar belakang kebutuhan khusus, untuk mengajar di sekolah-sekolah umum. Termasuk yang ada di Tomohon,” harap Dani.


