Penulis: Hendra Mokorowu
Tomohon, inatara.com — Sebagai penerima bantuan pemerintah bidang kebahasaan dan kesastraan tahun 2026 yang difasilitasi Badan Pengembangan, Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar Menengah, Sanggar Kamang Wangko Woloan akan menyelenggarakan kegiatan revitalisasi sastra lokal Minahasa. Ini melalui pelatihan kreatif dan digitalisasi karya pada 21–22 Juli 2026 di gedung Michi No Eki Pakewa, kota Tomohon. Demikian Ketua Sanggar Kamang Wangko Woloan, Armando Loho melalui siaran persnya, Senin (20/7).
“Ini merupakan komitmen kamki dalam menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra daerah. Sehingga terus diwujudkan melalui kolaborasi antara pemerintah dan komunitas sastra,” ujar Loho.
Ia menjelaskan, program ini menjadi ruang belajar kreatif bagi pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk mengenal, mengembangkan dan melestarikan sastra lokal Minahasa. Caranya melalui proses menulis yang didampingi para narasumber berpengalaman. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara pemerintah dan komunitas sastra dalam memperkuat pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan bahasa serta sastra daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Bagi Sanggar Kamang Wangko Woloan, program ini bukanlah sebuah kegiatan yang berdiri sendiri. Selama beberapa tahun terakhir, sanggar secara konsisten menyelenggarakan berbagai program pelestarian budaya. Mulai dari seminar budaya, pelatihan dan lokakarya sastra, dokumentasi tradisi lisan, pendampingan penulis muda, penerbitan karya sastra, hingga berbagai kegiatan edukasi yang melibatkan pelajar, masyarakat, akademisi serta pegiat budaya.
“Berbagai kegiatan tersebut menjadi wujud nyata komitmen sanggar dalam menjaga keberlangsungan bahasa, sastra dan budaya Minahasa,melalui pendekatan yang adaptif terhadap perkembangan zaman,” tambah Loho.
Tahun ini, kegiatan mengangkat tema “Menulis Hari Ini, Menjaga Jati Diri Esok”. Ini merupakan kelanjutan dari tema tahun sebelumnya yaitu, “Merawat Akar, Menyemai Cerita”. Rangkaian tema tersebut menggambarkan perjalanan gerakan pelestarian sastra yang dibangun secara berkelanjutan. Jika pada tahun sebelumnya peserta diajak mengenali, merawat dan menggali kembali akar budaya melalui cerita rakyat dan sastra lokal. Tahun ini peserta didorong untuk melangkah lebih jauh, yaitu menjadi pencipta karya. Menulis dipandang sebagai bentuk pelestarian yang aktif karena melalui karya sastra, nilai-nilai budaya dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pelatihan ini akan diikuti pelajar SMP dari berbagai sekolah di kota Tomohon, dengan guru pendamping. Selama dua hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti pelatihan yang memadukan teori, diskusi, praktik menulis, bahkan pendampingan intensif bersama sastrawan, budayawan dan pakar bahasa serta praktisi. Materi pelatihan difokuskan pada tiga bentuk karya sastra, yaitu puisi, cerita pendek, serta cerita rakyat, dongeng dan legenda Minahasa. Melalui materi tersebut, peserta diharapkan mampu menggali kembali nilai-nilai budaya lokal sebagai sumber inspirasi untuk menghasilkan karya sastra yang kreatif, autentik dan relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Loho menegaskan, pelestarian sastra harus dilakukan melalui proses yang melibatkan generasi muda secara langsung sehingga mereka tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi pencipta karya.
“Tahun lalu kami mengajak generasi muda untuk merawat akar, menyemai cerita. Tahun ini kami mengajak mereka melangkah lebih jauh melalui tema ‘Menulis Hari Ini, Menjaga Jati Diri Esok.’ Kami percaya, budaya akan tetap hidup ketika ada generasi yang mau menuliskannya, membacakannya dan mewariskannya kepada generasi berikutnya,” jelasnya.
Menurut dia, pelatihan ini bukan hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa setiap karya yang lahir merupakan bagian dari upaya menjaga identitas budaya Minahasa. Pihaknya berharap para peserta kelak menjadi generasi yang tidak hanya mencintai budayanya, tetapi mampu memperkenalkannya kepada masyarakat melalui karya sastra.
Selain meningkatkan kemampuan menulis, kegiatan ini juga diharapkan mampu membangun budaya literasi di lingkungan sekolah sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa dan budaya daerah. Sastra tidak hanya dipahami sebagai karya tulis, tetapi juga sebagai media yang merekam sejarah, nilai kehidupan, pengetahuan tradisional, serta memori kolektif masyarakat Minahasa. Setelah pelaksanaan pelatihan, seluruh karya peserta akan memasuki tahapan kurasi, penyuntingan dan digitalisasi sebagai bagian dari proses pembinaan yang berkelanjutan. Karya-karya terbaik akan diterbitkan dalam sebuah buku antologi sebagai dokumentasi hasil pembelajaran sekaligus menjadi media pelestarian sastra lokal Minahasa.
Rangkaian program ini akan berlanjut pada kegiatan diseminasi dan publikasi karya yang direncanakan berlangsung pada bulan berikutnya sebagai puncak kegiatan. Pada kesempatan tersebut, hasil karya peserta akan diperkenalkan kepada masyarakat melalui pentas karya, peluncuran buku antologi, pembacaan puisi, pementasan cerita rakyat, serta berbagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas para pelajar. Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman belajar menulis, tetapi juga kesempatan untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik sebagai bagian dari gerakan pelestarian sastra lokal Minahasa.
Sanggar Kamang Wangko Woloan menyampaikan apresiasi kepada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, atas dukungan melalui bantuan bidang kebahasaan dan kesastraan tahun 2026. Dukungan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan komunitas memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra daerah sebagai warisan budaya bangsa.


