Penulis: Sunadio Djubair
Kotabunan – Dalam hiruk pikuk birokrasi, sering kali kita menemukan pejabat publik yang tenggelam dalam rutinitas kantor. Namun berbeda dengan Idrus Paputungan, Camat Kotabunan.
Meski menyandang status Aparatur Sipil Negara (ASN) dan menduduki jabatan strategis sebagai pemimpin wilayah, Idrus tetap setia kembali ke akar kehidupannya: menjadi seorang petani.
Setiap kali tugas kedinasan mengizinkan, Idrus turun langsung ke kebun miliknya di Kotabunan. Bukan sekadar melihat-lihat, ia betul-betul ikut bekerja. Menyusuri petak lahan, menggenggam cangkul, merasakan aroma tanah basah, dan mengawasi tanaman yang ia rawat.
Baginya, aktivitas itu bukan hanya pelepas penat, melainkan juga panggilan hati. “Petani itu pekerjaan yang mulia. Dari tangan mereka, masyarakat bisa makan,” ucapnya.
Idrus memahami betul bahwa pangan adalah kebutuhan paling dasar bagi masyarakat. Karena itu, meski berstatus Camat, ia tidak ingin hanya berbicara soal pembangunan dari balik meja. Ia lebih memilih memberi contoh nyata bagaimana bercocok tanam bisa menjadi bagian penting dari upaya mendukung ketahanan pangan.
Dukungan Idrus terhadap program Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah tentang ketahanan pangan tidak sebatas retorika. Ia menghidupkannya melalui tindakan. Di Kotabunan, ia sering mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan tidur menjadi kebun produktif.
Ia mengajak kelompok tani untuk menanam komoditas yang bernilai ekonomis sekaligus bermanfaat bagi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, dengan gaya kepemimpinan yang egaliter, Idrus tak segan bergabung di tengah masyarakat, mengajarkan cara menanam atau sekadar ikut menyiangi rumput.
Bagi Idrus, menjadi pejabat dan menjadi petani bukanlah dua hal yang bertolak belakang. Justru keduanya saling melengkapi. Sebagai pejabat, ia punya tanggung jawab administratif sebagai petani, ia memiliki kedekatan emosional dengan realitas masyarakat.
“Kalau kita mau bicara ketahanan pangan, pemimpin harus jadi contoh. Jangan hanya memerintah, tapi juga ikut berbuat,” katanya.
Sikap sederhana dan rendah hati Idrus ini membuatnya dekat dengan warga. Banyak masyarakat Kotabunan merasa bangga memiliki seorang Camat yang tidak segan turun ke kebun.
Figur Idrus seakan menghadirkan pesan moral bahwa sehebat apapun jabatan seseorang, kembali ke tanahmenyatu dengan alam adalah bentuk pengabdian yang tak ternilai.
Di tengah gempuran modernisasi dan pergeseran pola hidup, sosok Idrus Paputungan hadir sebagai pengingat bahwa pangan adalah kekuatan bangsa. Dengan mendukung program ketahanan pangan Pemerintah Pusat sekaligus mencontohkannya dalam kehidupan pribadi, ia berhasil menyatukan peran sebagai birokrat dan petani.
Idrus adalah cerminan pemimpin lokal yang membumi. Ia tidak hanya mengurus administrasi wilayah, tetapi juga menanam harapan di tanah Kotabunan. Harapan agar masyarakat tidak pernah kekurangan pangan, dan agar generasi mendatang tetap mengenal nilai luhur bercocok tanam. (*)


