Penulis: Josua Wajong
Tomohon – Pemilihan ketua dan sekretaris jenderal (sekjen) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Manado (Unima) baru saja digelar.

Agenda tahunan yang belangsung di kampus FIP Unima, Kamis (19/5/2022) itu, menuai tanggap dari Zefanya Kauwoh yang baru saja menjadi demisioner sekjen BEM FIP Unima.
Kepada intara.com, dia menuturkan kampus adalah merupakan ruang ilmiah serta ruang dialektik yang paling efektif dalam pertarungan gagasan.
“Kampus harus bisa melahirkan mahasiswa yang merdeka secara berpikir, serta merdeka dalam bertindak,” kata Zefanya.
Namun ia menyayangkan, akhir-akhir ini peran mahasiswa kembali condong, setelah melakukan respons terhadap kenaikan minyak goreng serta kebijakan lainnya. Mahasiswa sendiri dianggap tidak pro terhadap publik.
Sehingga menurutnya, penilaian itu perlu di kaji kembali. Karena peran mahasiswa sebenarnya, selain sebagai motor perubahan juga harus mengontrol sebuah kekuasaan.
“Sesuai slogan yang selalu dilekatkan kepada mahasiswa bahwa mahasiswa selain agent of change (agen perubahan), juga harus menjadi agen of control terhadap kekuasan,” ungkap Zefanya.
“Maka posisi mahasiswa jelas diperlukan untuk jalannya sebuah sistem pemerintahan agar terhindar dari patologi birokrasi yang sudah menjadi masalah klasik (korupsi, kolusi, dan nepotisme),” sambungnya.
Oleh karena itu dia berharap, setelah perhelatan politik kampus di tingkatan mahasiswa yang baru saja di gelar ini, bukan sekedar seremonial belaka. Melainkan harus menjadi ajang pertarungan gagasan yang fungsinya untuk kepentingan kampus FIP Unima. Terlebih selalu berpihak kepada rakyat yang selalu termajinalkan.
“Jangan menciptkan tembok pemisah antara masyarakat dan mahasiswa, melainkan harus terciptanya keharmonisan. Sebab kedaulatan rakyat juga ada di tangan mahasiswa,” pinta Zafanya. (*)


