Penulis: Hendra Mokorowu
Bitung, inatara.com — Seminar budaya dalam rangkaian hari ulang tahun (HUT) negeri Aertembaga merupakan momentum penggalian sejarah tentang leluhur. Kegiatan ini pun dapat mempererat hubungan antarketurunan di Aertembaga. Demikian Ketua Panitia Seminar, Marvill Fritz yang juga sebagai Komandan Satrol Kodaeral VIII, Senin (14/9).
Menurut dia, hal penting bagi generasi penerus ialah bagaimana memahami para leluhur datang ke Aertembaga. Suatu waktu di masa silam, secara bersama-sama datang untuk membuka wilayah dan membangun kehidupan masyarakat.
“Rencana ke depan, kita kembalikan bagaimana orang tua, leluhur kita datang ke Aertembaga secara komunal. Jadi, tidak sendiri-sendiri,” kata Marvill.
Dipaparkannya, para leluhur yang datang ke Aertembaga memiliki hubungan kekerabatan. Mereka menjalankan peran dalam membangun kehidupan masyarakat, baik dalam aspek spiritual maupun sosial. Semuanya pasti bersaudara, diutus datang ke Dot Mataingkere ini untuk membuka lahan.
Ia berharap, generasi penerus hendaknya menjalin hubungan antarketurunan dengan baik. Memperkokoh persatuan dan kesatuan. Ini penting agar generasi mendatang memiliki pengetahuan mengenai adat istiadat dan asal-usul leluhur mereka.
“Kami, anak cucu dapat menjalin hubungan-hubungan itu dengan baik dan memperkokoh persatuan kesatuan. Sehingga ke depan, generasi emas bisa memperoleh pengetahuan tentang adat istiadat dan hal-hal berkaitan dengan siapa leluhur mereka,” ujarnya.
Marvill menyoroti tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, kemajuan teknologi perlu dimanfaatkan sebagai alat. Tetapi tidak boleh menghilangkan kebudayaan sebagai bagian dari jati diri masyarakat.
“Anak-anak kita, generasi alfa sudah masuk di zaman modern. Tetapi, sejatinya teknologi adalah sebagai alat. Sementara, kultur itu tetap menjadi jiwa atau soul,” tuturnya.
Dirinya menegaskan, mempertahankan adat istiadat sebagai identitas masyarakat Aertembaga dan bagian dari kebudayaan Minahasa itu penting. Dengan beriringnya waktu berjalan, hendaknya masyarakat tetap mempertahankan adat istiadat sebagai jati diri masyarakat Minahasa.


