Penulis: Josua Wajong
Tomohon – Menjadi narasumber dalam kegiatan diskusi bertemakan ‘Tingkatkan Jiwa Nasionalisme dan Demokrasi Sehat’,
Supriyadi Pangellu, S.H., M.H., Komisoner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Utara mengurai tentang nasionalisme dan demokrasi sehat dalam perspektif Bawaslu.

Kegiatan yang diinisiasi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tomohon ini, berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Tomohon, Kelurahan Walian Dua, Kecamatan Tomohon Selatan, Kamis (2/6/2022).
Di depan puluhan peserta perwakilan dari berbagai organisasi pemuda-mahasiswa ia berbagi cerita bagaimana strategi pengawasan Pemilu tahun 2024.
“Pertama, meningkatkan kualitas pencegahan, pengawasan kreatif inovatif, kepeloporan masyarakat dalam pangawasan partisipatif,” kata Pangellu.
“Kedua, meningkatkan kualitas penindakan pelanggaran pemilu dan penyelesaian sengketa. Serta, meningkatkan sumber daya manusia dan penerapan tata kelola organisasi yang profesional, akuntabel dan ramah lingkungan,” sambungnya.
Namun diakuinya, dalam upaya pencegahan serta pengawasan ini, Bawaslu perlu bekerja sama dengan lembaga serta masyarakat.
“Kami perlu kolaborasi dengan sejumlah pihak dalam pengawasan dan pencegahan partisipatif. Melalui program Bawaslu, peran lembaga serta inisiatif masyarakat sangat diperlukan,” aku Pangellu.
Sebelumnya, Leon Wilar, Ketua DPC GMNI Tomohon dalam sambutannya, telah menjelaskan tujuan dilangsungkannya diskusi tersebut.
“Kegiatan ini sebagai bentuk sumbangsi pemuda terhadap pentingnya meningkatan kesadaran tentang Pancasila, serta meningkatkan semangat nasionalisme dan patriotisme pemuda untuk menciptakan demokrasi yang sehat,” tutur Wilar.
Karena menurutnya, generasi muda adalah penggerak kemajuan bangsa Indonesia, sehingga jiwa nasionalisme serta Pancasila sebagai pedoman sangat diperlukan.
“Pemuda adalah motor memajukan bangsa. Sehingga sangat penting untuk menanamkan rasa nasionalisme dan Pancasila adalah pedoman tepat untuk membangun karakter bangsa, sebagaimana Pancasila sebagai dasar negara Indonesia,” sebut Wilar.
Dalam diskusi ini DPC GMNI Tomohon menghadirkan sejumah narasumber. Supriyadi Pangellu, S.H., M.H., Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sulawesi Utara dengan materi ‘Nasionalime dan Demokrasi Sehat dalam Perspektif Bawaslu, Drs. Harryanto Lasut, M.A.P., Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tomohon dengan materi ‘Nasionalisme dan Demokrasi Sehat dalam Perspektif KPU’, Yowanda Yonggara, S.H., M.A., Ketua DPD GAMKI Sulut dengan materi ‘Pemuda dan Nasionalisme’, Pdt. Ruth Wangkai, M.Th, aktivis Gerakan Perempuan Sulut (GPS) yang juga peneliti di Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat), membawakan materi ‘Nasionalisme dan Peran Perempuan dalam Sejarah Pergerakan, Rikson Karundeng, M.Teol., Koordinator Gerakan Demokrasi Elektoral (Gedoer) dan Director Komunitas Penulis Mapatik, dengan materinya ‘Minahasa, Budaya, Nasionalisme dan Demokrasi Sehat’.
Dikatahui, sejumlah pimpinan organisasi kepemudaan turut mengambil bagian dalam diskusi ini. Di antaranya, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Tomohon, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), Ikatan Mahasiswa Tomohon (IMT) Unima, Himpunan Mahasiswa Tombulu Minahasa (HMTM), Sekolah Adat Tou Mu’ung Wuaya, Solidaritas Kelelondey Memanggil (SKM), dan Sanggar Manguni Fakultas Teknik Unima. (*)



