Penulis : Raiza Makaliwuge
Manado – Aksi Kamisan kembali digelar. Jaringan mahasiswa, sejumlah elemen masyarakat, dan warga yang menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM), bersuara lantang. Mereka menuntut negara agar menyelesaikan pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu dan yang terjadi di masa sekarang.
Aksi ini digelar di zero point Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Kamis (14/9/2023).
Terlihat di lokasi aksi Kamisan tersebut masa aksi tidak hanya mengangkat isu-isu pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu, melainkan isu-isu di masa kini. Seperti penggusuran yang ada di Kalasey Dua, Kelelondey, dan di Singkil Dua.
Menurut salah satu masa aksi, Henly Rahman, kasus yang ada di Kalasey Dua bukan hanya tentang penggusuran sepihak yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak Politeknik Parawisata, tetapi katanya di saat penggusuran 7 November 2022 yang lalu juga terjadi kekerasan oleh aparat Kepolisian dan Pol-PP kepada warga yang ingin mempertahankan perkebunan mereka.
“Kami tidak hanya membawa isu-isu nasional tetapi kami juga membawa isu-isu lokal yang terjadi di Kalasey Dua, Likupang, Kelelondey, dan Singkil Dua. Juga isu-isu kekerasan aparat kepada warga,” ungkap Rahman.
Aksi Kamisan ini dianggap penting. Salah satu jalan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat.
“Menurut kita Kamisan itu bentuk torang pe perjuangan. Karena kalo mo berjuang-berjuang di media sosial, bisa jadi boleh mo dilaporkan pencemaran nama baik dan sebagainya. Jadi menurut kita aksi Kamisan itu jadi salah satu jalan torang menyuarakan torang pe aspirasi,” kata Syifa.
Syifa juga berharap lebih banyak lagi orang bergabung dan sadar bahwa pentingnya aksi Kamisan.
“Berharap banyak orang yang tergabung dan banyak juga orang sadar bahwa aksi Kamisan itu penting ternyata,” tutupnya.


