Penulis : Raiza Makaliwuge
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) gelar rapat koordinasi (rakor) pemutakhiran data pemilih, khusus daerah bencana Gunung Ruang, di Hotel Four Points Manado, Jumat (12/7/2024).
Rakor ini dihadiri oleh perwakilan masyarakat, Panitia Pemungutan Suara (PPS), Pantarlih Desa Laingpatehi dan Pumpente, serta pengungsi daerah bencana Gunung Ruang.
Narasumber di rakor ini, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sulut, Ardiles Mewoh, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulut, Ferry Sangian, dan Asisten 1 Sekretariat Daerah Provinsi Sulut, Denni Mangala.
Anggota KPU Provinsi, Lanny Ointu, membuka secara resmi kegiatan ini. Setelah itu ia langsung menanyakan hal-hal terkait pelaksanaan pencoklitan kepada kedua desa terdampak bencana yang hadir dalam rapat tersebut.
Rapat koordinasi ini diselenggarakan untuk memastikan proses coklit dari para pengungsi Gunung Ruang telah berjalan dengan lancar dan untuk memastikan tidak ada data pengungsi yang terlewatkan dalam proses pendataan yang sedang berjalan ini.
Ferry Sangian, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sulut memberikan arahan untuk benar-benar memastikan dengan teliti terkait data-data pemilih yang dirasa bisa berpotensi menjadi masalah di kemudian hari.
“Saat ini kita bersama-sama untuk memvalidasi data pemilih supaya tidak terlewat. Kalau satu dua orang mo terlewat, nanti jadi ribut,” ujarnya.
Dalam penyampaiannya, Denni Mangala menginformasikan bahwa nantinya akan dilakukan penghapusan dan penambahan dua desa yang sudah disepakati oleh pemerintah dari masing-masing daerah yang bersangkutan.
“Dua desa di Pulau Ruang ini sebagaimana penjelasan Pak Gubernur itu akan direlokasi di desa Modisi, Bolmong Selatan. Kemudian Pulau Ruang itu sendiri ditetapkan sebagai kawasan konservasi yang tidak bisa ada hunian lagi di situ,” ujar Mangala.
“Nah, dua bupati ini, baik Bupati Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) maupun Bupati Bolaang Mangondow Selatan (Bolsel), itu sudah sepakat di hadapan Bapak Gubernur, di Sitaro akan dihapus dua desa, sementara di Bolsel akan ditambahkan dua desa,” tambahnya.
Ketua Bawaslu Provinsi Sulut, Ardiles Mewoh, juga menyampaikan akan mengusahakan untuk melindungi hak pilih dari para pengungsi, karena para pengungsi tersebut bisa dikatakan sebagai pemilih yang hak pilihnya rentan.
“Kondisi ini membuat bapak, ibu sangat rentan untuk terganggu hak pilihnya. Oleh karena itu, kami memberikan perhatian khusus. Dalam beberapa kesempatan, kami mengingatkan teman-teman KPU supaya betul-betul melakukan tahapan pemutakhiran data pemilih ini dengan baik di daerah-daerah atau di tempat-tempat pengungsian” tandasnya.
Acara ini juga menjadi wadah bagi para pengungsi Gunung Ruang untuk menyampaikan masukan serta mengajukan pertanyaan terkait proses pemilihan umum kepada narasumber yang hadir.
KPU Sulut berkomitmen untuk terus menjalin koordinasi dengan seluruh pihak terkait, guna menyukseskan Pemilu yang aman, adil, dan transparan di Sulut.


