Penulis: Filo Karundeng
Ratahan – Semangat melestarikan tradisi membuncah dari pemuda adat Pasan. Itu terlihat jelas saat digelar workshop Pelestarian Alat Berburu Tradisional di Pantai Montoy, Desa Minanga Tiga, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara (Sulut), Jumat (9/12).
Pertemuan yang digagas Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Pengurus Kampung (PKam) Minanga itu berlangsung interaktif. Ada juga sesi demonstrasi penggunaan alat berburu tradisional.

“Ini adalah alat untuk berburu ‘soa-soa‘ (biawak). Kalau dilepas pagi, siang sudah bisa dicek. Pasti sudah ada hasil,” jelas Aswin Mangimbulude, pemuda adat Minanga, sembari mencontohkan cara menggunakan ‘dodeso soa-soa‘ (perangkap biawak).
Cara pembuatan dan penggunaan alat berburu tradisional dianggap penting untuk dipelajari sebagai sarana pelestarian pengetahuan tradisi.
“Di sini kita tidak sementara melawan alat berat. Tetapi yang kita alami adalah krisis identitas. Makanya kami sebagai pemuda punya kerinduan besar untuk mendengar cerita-cerita dari orang tua,” ucap Febrico Pogaga, Ketua BPAN PKam Minanga.
“Kami berharap, semangat kami untuk menjaga kampung boleh mendapat dukungan dari orang tua, dan masyarakat di sini,” pesan motor gerakan pemuda adat berusia 18 tahun ini.

Workshop ini dihadiri juga oleh Michelin Sallata, Ketua Umum BPAN, Kharisma Kurama, Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) Pengurus Wilayah (PW) Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulut, dan Frans Lontaan, Hukum Tua (Kepala Desa) Minanga Timur.


