Penulis: Josua Wajong
Manado – Para seniman dan sastrawan muda pentaskan sejumlah karya seni, dalam rangka pengukuhan pengurus organisasi Satupena Sulawesi Utara (Sulut), di Aula Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut, Jumat (10/6/2022).
Tempil membawakan sebuah puisi dengan menggunakan ikat kepala khas Minahasa, Ricard Ering memukau. Ada sesuatu yang terlihat berbeda.

Kepada Inatara.com, Ering mengatakan, ikat kepala yang dipakainya itu disebut susuunan. Itu adalah salah satu identitas tou (orang) suku Minahasa yang perlu dilestarikan.
“Jati diri tou Minahasa tetap menjadi prioritas utama bagi kita yang menetap di tanah warisan. Ya, salah satunya susuunan,” tutur Ering.
Bagi dia, memakai susuunan di berbagai ruang sangatlah penting. Karena itu adalah caranya menjaga warisan dari nenek moyang suku Minahasa.
“Menggunakan simbol yang satu ini, bukan semata-mata gaya-gayaan, melainkan ini adalah salah satu wujud kecintaan saya terhadap tanah tempat saya dilahirkan dan dibesarkan yakni Minahasa,” aku Ering.

Selain itu juga, berada di tengah-tengah para seniman ternama Sulut, dengan memakai susuunan menambah kebanggan tersendiri terhadapnya.
“Saya merasa bangga karena berada dalam organisasi sekelas Satupena Sulut, salah satu simbol Minahasa dapat beraksi di atas panggung,” sebut Ering.
Disamping itu dia mengungkapkan, akan terus menjaga serta melestarian kearifan lokal suku Minahasa.
“Saya akan terus berupaya menjaga dan melestarikan warisan budaya Minahasa, walaupun itu hanya dengan susuunan,” kunci Ering yang juga Ketua Sanggar Kanaramen di Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Pengurus Daerah (PD) Tomohon.
Diketahui dalam kegiatan itu ada juga penampilan teater monolog oleh Virgin Louisa, penyanyi solo Rifki Imaji, Rhesa Kasakeyan, Esi La Petite, serta musikalisasi puisi oleh Melva Kembuan, Benji, VOX SMEK 4 Manado, dan pembaca puisi Rivo Sumampouw, dan EL Gratia Mikhayla Toar. (*)


