Sunday, May 31, 2026
HomeNUSANTARAFestival Film Wanua Siap Digelar di Laikit

Festival Film Wanua Siap Digelar di Laikit

Penulis: Filo Karundeng

Airmadidi – Festival Film Wanua (FFW) siap digelar di Wanua (Desa) Laikit, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, Sabtu (25/3). Program yang dilaksanakan Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat), dan didukung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) ini, direspons positif dan didukung penuh pemerintah setempat.

“Kegiatan akan dilaksanakan Sabtu sore, jelang malam ini, di Balai Desa Laikit. Kami Pukkat bersama pemerintah dan seluruh perangkat desa sangat bersemangat. Kami bersyukur karena Pak Hukum Tua (Kepala Desa) Frans Rotty Manua sangat mendukung kegiatan ini,” kata Ketua Pukkat, Dr. Denni Pinontoan, M.Teol., di lokasi kegiatan.

Menurutnya, Festival Film Wanua merupakan rangkaian sejumlah kegiatan. Mulai dari sosialisasi dan pendataan sineas, komunitas film dan karyanya, penulisan buku profil filmmaker dan komunitas film, serta materi karyanya, pemutaran film dan diskusi keliling di enam lokasi berbeda di tanah Minahasa, hingga seminar film yang membahas tentang proses kreatif, isi dan tema film.

“Kita mulai festival ini dari Taratara Tomohon, kemudian di SMA Negeri 3 Tondano, Malola Kumelembuay, Wuwuk Tareran, Minanga Pusomaen, dan hari ini di Laikit Dimembe. Puncak festival, ruang apresiasi dan launching buku akan dilaksanakan pada bulan April 2023 nanti, di Benteng Moraya Tondano,” ujar Pinontoan.

“Kegiatan festival film yang ditunjang oleh Kemendikbudristek dan LPDP ini menjadi wadah ekspresi, apresiasi dan edukasi buat masyarakat, secara khusus para sineas dan komunitas film di Minahasa,” sambungnya.

Pinontoan juga menjelaskan kenapa secara spesifik festival film ini diberi tema Festival Film Wanua. Menurutnya, wanua dalam pengertian tradisi orang-orang Minahasa menunjuk pada kampung atau desa, sebagai suatu kesatuan adat yang dialami secara spiritual dan sosial.

“Pada komunitas wanuatou atau manusia, dan sumber daya alam yang berfungsi secara praktis untuk kehidupan, yaitu dalam bentuk wale atau papan, kan atau pangan dan karai atau sandang, membentuk suatu praktik dan etik. Secara teknis, tema ini menunjuk pada ruang lingkup dan materi film,” paparnya.

Pinontoan pun menyampaikan terima kasih dan apresiasi bagai para sineas, komunitas film dan pemerintah desa Laikit yang siap bersama dan memberikan dukungan nyata bagi program penting ini.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Sunday, May 31, 2026
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments