Penulis: Hendro Karundeng
Tomohon, inatara.com — Nuansa senda gurau dalam kafe yang bertengger di kelurahan Matani Satu, kecamatan Tomohon Tengah, mejadi serius, Sabtu (10/10). Kedai Kelung, meski menyuguhkan aneka minuman kopi, tapi laiaknya sebuah ruang kelas. Workshop menulis budaya yang digagas Instruktur Komunitas Mapatik, Hendra Mokorowu dengan tema Situs, Ritus dan Kanaraman pun jadi pemantik.
Sebagai Ketua Panitia, Mokorowu dalam laporan menuturkan, workshop menulis budaya ini bisa terlaksana berkat fasilitas yang diberikan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulawesi Utara (Sulut). Ini juga merupakan perwujudan daripada program fasilitasi pemajuan kebudayaan (FPK). Adapun, di workshop ini, panitia melibatkan para jurnalis sebagai peserta.
“Saat ini kami melaksanakan program FPK dengan mengimplementasikan kegiatan yang diajukan, yakni wokshop menulis budaya. Kegiatan ini difasilitasi langsung Balai Pelestarian Kebudayaan Sulut,” ujar Mokorowu.
Ia mengatakan workshop tersebut berangkat dari pemikiran, menulis dan mendokumentasikan budaya merupakan salah satu langkah penting dalam upaya pemajuan kebudayaan. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, termasuk di tanah Minahasa. Namun, pendokumentasian budaya melalui karya tulis masih perlu diperkuat lagi. Sehingga nilai, sejarah serta warisan leluhur dapat diketahui masyarakat secara lebih luas.
“Salah satu bentuk pemajuan dan pelestarian kebudayaan adalah dengan menulis serta mendokumentasikan berbagai instrumen kebudayaan yang ada di tanah Minahasa,” ungkapnya.
Dirinya mengakui, keterlibatan jurnalis dalam pendokumentasian kebudayaan memiliki peran strategis. Selain memiliki dasar-dasar penulisan dan pengalaman menyampaikan informasi kepada publik, wartawan juga dapat mengembangkan pendekatan jurnalistik yang lebih mendalam, naratif dan sastrawi dalam mengangkat kisah-kisah kebudayaan.
“Workshop ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan teknis menulis. Akan tetapi, semakin memperkuat kepekaan jurnalis dalam menggali nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur,” tutur Mokorowu.
Ia berharap, para peserta dapat menghasilkan karya yang tidak sekadar menyampaikan informasi. Lebih dari itu, peserta mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai makna dan kekayaan kebudayaan Minahasa melalui karya tulis. Dia menilai, profesi wartawan bisa memberikan kontribusi besar untuk mencerahkan masyarakat tentang kebudayaan Minahasa. Utamanya nilai-nilai positif yang terkandung dalam warisan leluhur.
“Kiranya workshop ini bisa menjadi bagian penting dari gerakan pelestarian warisan leluhur. Sehingga kekayaan budaya Minahasa tidak hanya hidup dalam ingatan dan praktik masyarakat. Tetapi juga terdokumentasi dalam karya tulis yang dapat dibaca, dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikut,” tandas Mokorowu.
Saat membuka kegiatan ini, Kepala BPK Sulut, Anton Hariyanto, S.Kom., M.M.Si., yang diwakili Kepala Subbagian Umum, Wenny Wuisan, S.S., M.Si., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop menulis budaya tersebut. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari pelaksanaan program bantuan pemerintah di bidang kebudayaan.
Kata dia, keterlibatan para jurnalis dalam penulisan budaya menjadi peluang untuk memperluas publikasi mengenai kekayaan kebudayaan daerah melalui media massa. Ia juga mengungkapkan, BPK Sulut merencanakan penerbitan jurnal pada 2027, yang dapat menampung tulisan-tulisan mengenai kebudayaan daerah.
“Kami berharap tulisan-tulisan tentang budaya, baik yang panjang maupun singkat, dapat disampaikan kepada BPK. Ini untuk menjadi bagian dari cerita dan dokumentasi mengenai daerah,” sebut Wuisan.
Ada harapan besar, lanjutnya, kegiatan serupa dapat terus berkembang di Sulut. Sehingga upaya pemajuan kebudayaan tidak hanya berlangsung melalui festival atau pertunjukan seni. Tetapi juga melalui dokumentasi tertulis yang dapat dipelajari lintas generasi, bahkan masyarakat lebih luas.
“Kiranya kegiatan ini memberikan penguatan pengetahuan kepada semua peserta. Utamanya mengenai penulisan budaya, penggalian sejarah lokal serta pengembangan narasi jurnalistik yang mampu menghidupkan cerita di balik situs, ritus, dan berbagai tradisi masyarakat Minahasa,” pungkas Wuisan.
Diketahui, workshop ini menghadirkan pemateri yang kompeten. Misalnya Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sulut, Sintya Nidya Bojoh, Director Komunitas Penulis Mapatik, Pemimpin Redaksi Kelung.co.id, Budayawan, Peneliti, Penulis, sekaligus Wakil Ketua PWI Sulut Bidang Pendidikan, Rikson Karundeng, S.Th., M.Th., dan Director Mawale Cultural Center, Budayawan, Penulis, Seniman, Greenhill Weol, S.S.


