Penulis : Raiza Makaliwuge
Tondano – Jumat (25/8/2023), Petani Kalasey Dua yang tergabung dalam Solidaritas Petani Penggarap Kalasey Dua (Solipetra), melakukan aksi memberhentikan sementara operasi alat berat yang ada di perkebunan Kalasey Dua. Alasannya, lahan yang akan digusur belum mendapatkan ganti untung oleh pihak Brigade Mobile (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut).
Koordinator Solipetra, Refly Sanggel juga mengaku bahwa pihaknya tidak mengetahui tentang penggusuran yang akan berlangsung di lahan yang sekarang mereka duduki untuk bercocok tanam.
“Lahan yang warga kelola untuk bercocok tanam, secara tiba-tiba dari pihak Brimob datang untuk mengeksekusi dengan dasar hibah dan sebagainya,” terang Sanggel.
Mereka juga berharap kepada Pemangku Kepentingan yang di dalamnya Pemerintah Daerah Sulut dan pimpinan Brimob Sulut agar lebih memikirkan hak asasi manusia (HAM) dan keadilan kepada petani.”
Karena lahan yang kami gunakan untuk hidup dan menjadi sumber kehidupan keluarga kami, sudah dari semenjak Indonesia belum merdeka, yaitu di tahun 1932,” tutup Sanggel.


