Penulis: Hendro Karundeng/Timina
Tomohon, inatara.com – Pertemuan hangat kembali digagas Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat). Kali ini, menghadirkan seorang akademisi dari University of Canterbury (UC), New Zealand, Wensislaus Patubun, dengan mengangkat tema “Membincangkan Ulang Pendekatan dan Metode Advokasi Masyarakat Adat”. Gelaran diskusi sarat pengetahuan ini berlangsung di kantor Pukkat, Jalan Kalutay, Kaskasen, Tomohon Utara, Senin (6/7), kemarin.
Sebagai pemantik, Wensi, panggilan akrab pembela hak asasi manusia ini, menjelaskan berbagai refleksi dalam film Pesta Babi. Film yang viral di media sosial ini memang sengaja dibuat oleh pihak-pihak tertentu. Tujuannya pun belum tentu demi kepetingan masyarakat adat Papua. Ia menduga, di balik film tersebut, ada kepentingan besar pihak-pihak, di luar orang luar Papua.
Ia menjelaskan, pesta babi merupakan salah satu tradisi sakral orang Papua, yang eksistensinya bisa ribuan tahun. Berdasarkan sudut pandang orang Papua, pesan penting di film itu, yaitu peran masyarakat adat dalam menghidupi hutannya sendiri. Tentu tanpa kontaminasi kepentingan kolonialisme modern. Jadi, hal apa saja yang berkaitan dengan wilayah tradisi, ruang dan hidup, mestinya dikelola masyarakat adat itu sendiri.

“Orang Mui (nama suku, red) menyadari bahwa pesta babi itu suatu hal yang eksistensial. Maknanya, orang dapat menyadari dari mana ia berasal dan ke mana dia akan pergi. Dalam konteks masyarakat adat, khususnya di Pasifik, ini merupakan hal yang paling sensitif,” ujar Wensi, kandidat Doktor Filsafat di UC New Zealand ini.
Menanggapi materi diskusi tersebut, beberapa peneliti Pukkat pun berbagi pengetahuan. Di antaranya, Budayawan Minahasa, Rikson Karundeng. Ia menyinggung tentang refleksinya terhadap sebuah film animasi karya Disney Studio, yaitu Moana. Menurut dia, Moana sebenarnya memiliki alur cerita yang berat untuk penonton anak-anak. Sebab pesan di dalamnya lebih kepada bagaimana menjaga wilayah adat, tata cara hidup dan berbudaya orang Pasifik.
“Film Moana melambangkan gerakan mawale (kembali pulang ke rumah, red) sendiri. Lewat ingatannya, tokoh utama Moana, menjadi jembatan serta pendorong bertemunya kembali orang-orang Pasifik yang seolah terpisah. Dengan lautan yang menjadi penghubung ingatan, Moana menemukan kembali saudara-saudaranya dengan originalitas sukunya,” ucap Rikson.

Kegiatan diskusi tersebut diikuti para peneliti Pukkat, Komunitas Penulis Mapatik, akademisi dari Universitas Sam Ratulangi dan Universitas Sari Putra Tomohon. Termasuk mahasiswa Social Immersion dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta dan Universitas Kristen Duta Wacana Jogjakarta. Turut hadir sejumlah jurnalis yang intens melakukan peliputan tentang masyarakat adat.


