Wednesday, March 4, 2026
HomeUncategorizedCaroll dan Sendy Hadiri Lokakayra Gaya Hidup Tanpa Sampah

Caroll dan Sendy Hadiri Lokakayra Gaya Hidup Tanpa Sampah

Penulis: Roniem

Tomohon, inatara.com – Wali Kota, Caroll J.A. Senduk, S.H., dan Wakil Wali Kota, Sendy G.A. Rumajar, S.E., M.I.Kom., menghadiri workshop zero waste lifestyle for Tomohon City. Kegiatan ini dilaksanakan di Command Center Pemerintah Kota Tomohon, Selasa (24/2). ​Dalam sambutannya, Wali Kota Tomohon menuturkan, proyek ASEAN sustanaible urbanisation strategy (ASUS) tahap II (accelerating the implementation of the asean sustainable urbanisation strategy phase II) merupakan kelanjutan dan penguatan dari tahap I yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip dasar strategi urbanisasi berkelanjutan ASEAN.

Inisiatif ini dirancang untuk mendukung implementasi langsung dari ASUS, khususnya di kota-kota sekunder dan menengah seperti kota Tomohon. Proyek ASUS disusun sebagai bagian dari tindak lanjut atas master plan on ASEAN connectivity 2025 yang diluncurkan sejak tahun 2018 untuk menjawab tantangan nyata urbanisasi di kawasan Asia Tenggara.

“Kita semua menyadari, tantangan urbanisasi di zaman sekarang ini tidaklah ringan. Di tengah pesatnya pertumbuhan populasi, perubahan iklim yang kian nyata dan tekanan terhadap sumber daya alam, kota-kota kita dihadapkan pada tanggung jawab kian kompleks. Di antaranya pengelolaan sampah, sanitasi dan air bersih menempati posisi yang sangat mendesak serta menjadi perhatian utama di kota Tomohon,” papar Caroll.

Kata dia, pengelolaan sampah dan limbah serta kebutuhan air bersih tak terelakkan dari kehidupan perkotaan modern. Namun apabila tidak ditangani secara sistematis dan berkelanjutan, itu akan menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan hidup dan ketahanan kota secara keseluruhan.

Kota-kota di ASEAN, termasuk Tomohon masih menghadapi berbagai kendala. Mulai dari keterbatasan infrastruktur, pengelolahan sampah, rendahnya tingkat daur ulang, kesenjangan akses terhadap sanitasi yang aman serta akses terhadap air bersih. Sebagai salah satu kota yang terpilih untuk berpartisipasi dalam program ASUS ini, Tomohon telah mengikuti ASEAN sustainable urbanisation forum (ASUF) yang dilaksanakan di kuala lumpur pada Agustus 2025. Tomohon telah menetapkan fokus utama pada bidang pengelolaan sampah dalam upaya mendukung program nasional Indonesia bebas sampah 2029.

“Tentunya hal ini menjadi tantangan kita bersama untuk bekerja bersama bahu-membahu dengan semua stakeholder dalam membiasakan gaya hidup masyarakat yang bersih, sehat dan tangguh dalam menghadapi tantangan lingkungan perkotaan,” sebutnya.

Dalam ASUS II ini, Tomohon akan berpartisipasi dalam penyelesaian city technical proposal dengan memvalidasi city diagnostic report. Kemudian bersama -sama dengan pemangku kepentingan menganalisis visi kota yang terkait dengan area tematik melalui proses kolaboratif untuk merumuskan visi dan arah untuk city technical proposal.

Pengelolaan sampah kota Tomohon saat ini masih terpusat di tempat pemrosesan akhir (TPA) regional Taratara dengan luas 5,3 hektar. Meskipun dirancang sebagai sanitary landfill, praktik di lapangan masih berupa open dumping dan instalasi pengelolahan lingkungan (IPL) belum berfungsi optimal. Kemampuan sumber daya manusia dan pemahaman masyarakat dalam pemanfaatan bank sampah induk sangat diperlukan untuk kesinambungan program ini.

Potensi terbesar timbunan terletak pada sampah organik yang belum terkelola secara optimal. Timbunan sampah kira-kira 51,6 ton/hari dengan presentasi 70 persen sampah organik. Sehingga pemerintah terus berupaya mempertajam pelaksanaan pengolahan sampah, di antaranya melalui program PPSOT. Memperluas integrated farming yang saat ini sementara dilaksanakan di kelurahan kakaskasen dan community composting sebagai pilot project dilaksanakan di kelurahan Taratara raya, diharapakan dapat berjalan di seluruh kelurahan kota Tomohon.

Adapun permasalahan utama yang dihadapi Pemerintah Kota Tomohon, yakni pertama masih kurangnya koordinasi lintas sektor. Kedua perangkat daerah dan komunitas belum terhubung secara sistematis. Ketiga, landasan kebijakan formal perlu diformulasikan dengan baik agar pengelolaan sampah dapat terintegrasi. Keempat, pembangunan data persampahan belum terpadu dan belum valid untuk kepentingan perencanaan. Kelima, upaya menghubungkan potensi inovasi dan best practice di masyarakat belum terhubung dengan sistem forma. Keenam, ketersediaan anggaran yang belum sepenuhnya memadai.

“Dengan mencermati berbagai hal ini, saya berharap workshop ini dapat menghasilkan rekomendasi yang konkret pada proyek ASUS. Dapat segera diimplementasikan untuk meningkatkan pengelolaan sampah di kota Tomohon. Saya juga berharap kita dapat bekerja sama untuk menciptakan kota Tomohon yang bersih, hijau dan sehat melalui program-program pengelolaan sampah berkesinambungan,” tandas Caroll.

Narasumber dari UN-HABITAT, yaitu Urban Development Expert, Sovanarith Sieng dan Local Project Officer Indonesia Mula Pralampita Nursetianti. Peserta Workshop, yaitu Ketua DPRD Kota Tomohon, Ferdinand Mono Turang, Ketua TP-PKK Kota Tomohon, drg. Jeand’arc Karundeng, jajaran Pemerintah Kota Tomohon, akademisi, peneliti, pemerhati lingkungan, praktisi pengolahan sampah dan Non Governmental Organizations. (*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wednesday, March 4, 2026
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments