Penulis: Sunadio Djubair
Tutuyan – Alasan “overload” yang disampaikan manajemen SPX Express Tutuyan terkait tidak dapat dilakukannya pembayaran Cash on Delivery (COD) bagi sejumlah warga di wilayah Kotabunan dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Klaim tersebut kini dipertanyakan, menyusul munculnya fakta-fakta yang mengarah pada persoalan serius dalam manajemen pengantaran paket.
Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan bahwa pemblokiran COD tidak dipicu oleh lonjakan volume paket, melainkan akibat tingginya angka retur yang tercatat dalam sistem. Retur tersebut diduga kuat dilakukan secara sepihak oleh pihak SPX Tutuyan tanpa pemberitahuan maupun konfirmasi terlebih dahulu kepada konsumen.
Akibat akumulasi retur sepihak tersebut, pihak Shopee disebut mengambil langkah tegas dengan memblokir fitur COD terhadap sejumlah nama penerima dan alamat tertentu di Kotabunan yang terindikasi “bermasalah” dalam sistem.
Ironisnya, kebijakan ini justru menempatkan konsumen sebagai pihak yang paling dirugikan, meskipun mereka tidak pernah menolak paket maupun melakukan pelanggaran transaksi.
“Ini bukan soal overload. Alamat Kotabunan dan beberapa nama diblokir COD karena sebelumnya banyak paket diretur tanpa konfirmasi ke pemesan. Shopee menganggap itu bermasalah,” ungkap Salsabila Noval Wakid melalui unggahan di akun Facebook pribadinya.
Ia juga menilai, pimpinan SPX Express Tutuyan, Alfry Dalemeng, diduga berupaya “cari aman” dengan menyampaikan alasan overload ke publik, sementara akar persoalan sebenarnya terletak pada buruknya tata kelola distribusi serta minimnya komunikasi antara kurir dan konsumen.
“Kalau dibilang overload, itu hanya alasan. Yang jadi korban justru konsumen. Paket diretur sepihak, lalu nama dan alamat diblokir COD. Akhirnya semua tidak bisa COD lagi,” tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan sejumlah warga Kotabunan. Mereka mengaku tidak pernah dihubungi oleh kurir, tidak menolak paket, bahkan ada yang sama sekali tidak mengetahui bahwa paketnya telah diretur hingga muncul notifikasi pembatalan di aplikasi belanja.
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius terkait profesionalisme dan tanggung jawab pihak SPX Express Tutuyan dalam menjalankan layanan pengiriman. Praktik retur tanpa pemberitahuan tidak hanya merugikan konsumen secara langsung, tetapi juga mencederai kepercayaan platform terhadap alamat dan wilayah tertentu, yang berujung pada pembatasan akses layanan bagi masyarakat luas.
Hingga berita ini diterbitkan, Shift Leader SPX Express Tutuyan, Alfry Dalemeng, belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan retur sepihak yang berujung pada pemblokiran COD massal oleh Shopee. Upaya konfirmasi yang dilakukan media ini belum mendapat respons.
Sementara itu, para konsumen berharap adanya evaluasi menyeluruh dari manajemen SPX Express serta langkah pemulihan hak bagi warga Kotabunan yang terdampak. Mereka menuntut transparansi, tanggung jawab, dan perbaikan layanan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kelalaian dalam proses distribusi logistik tidak berdampak pada satu transaksi semata, melainkan dapat memicu krisis layanan yang merugikan seluruh masyarakat dalam satu wilayah. (*)


