Penulis: Josua Wajong
Tomohon – Buah kesepakatan Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) se-Sulawesi Utara (Sulut) untuk menggelar pertemuan dan diskusi rutin, diwujudkan Sabtu (12/3/2022), di Wale Tou Mu’ung, Kelurahan Matani Tiga.

Pengurus Daerah (PD) BPAN Tomohon kali ini jadi ‘makawale’ diskusi bertajuk ‘Perjumpaan Injil dan Kebudayaan di Tanah Minahasa’ itu.
Kepada inatara.com, Filo Gratiadeo Karundeng, Dewan Pemuda Adat Nusantara, (Depan) BPAN, perwakilan Region Sulawesi menjelaskan, tujuan kegiatan ini digelar untuk konsolidasi.
“Tujuan teman-teman BPAN di Sulawesi Utara mengadakan kegiatan ini, yang pertama tentu untuk merangkul teman-teman pemuda adat di Sulawesi Utara,” kata Karundeng.
“Sekaligus juga untuk memperkenalkan organisasi sayap AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) ini, kepada teman-teman yang memiliki pemahaman yang sama dalam melestarikan budaya tradisi warisan leluhur dan menjaga wilayah adat,” sambungnya.

Selain itu, pemuda adat Tomohon ini juga menuturkan, kegiatan tersebut guna mempererat hubangan sesama penggerak BPAN di Sulut.
“Kedua, kegiatan ini kami lakukan juga untuk mempererat hubungan teman-teman anggota BPAN di Sulawesi Utara,” jelas Karundeng.
Sementara, ketika ditanyai kenapa diskusi itu memilih topik perjumpaan Injil dan Kebudayaan di Tanah Minahasa, menurutnya itu untuk merespons persoalan fundamentalisme agama, termasuk stigmatisasi (pelekatan negatif) situs sejarah Minahasa oleh sejumlah oknum beberapa waktu lalu.
“Alasan kami memilih topik perjumpaan Injil dan kebudayaan di tanah Minahasa yaitu, karena pada bulan Februari yang lalu ada kejadian di salah satu situs bersejarah di Minahasa. Di mana ada beberapa oknum yang mengatasnamakan agama dan keimanannya kemudian mencatat bahwa situs tersebut, yang berupa waruga, adalah bentuk penyembahan berhala. Tentu itu sangat melukai hati kami sebagai masyarakat adat,” imbuh Karundeng.

Dari peristiwa itulah menurut dia, pemuda adat Sulut saat ini berpikir perlu dibekali dengan pemahaman serta pengetahuan lebih tentang agama dan kebudayaan di tanah Minahasa.
“Kita ingin pemuda-pemuda yang mengaku sebagai pemuda adat di Sulawesi Utara, memiliki wawasan yang lebih. Tentang bagaimana proses inkulturasi agama dengan kebudayaan di Minahasa,” sebut Karundeng.
Harapannya, dengan bekal pengetahuan tersebut, pemuda adat di Sulut dapat berpikir kritis dan bersikap bijaksana.
“Saya berharap, lewat kegiatan ini para pemuda dapat menanggapi hal-hal tersebut dengan cara yang lebih kritis dan bijaksana. Agar nantinya jika terulang lagi peristiwa tersebut, para pemuda adat sudah punya wawasan atau pengetahuan,” kunci Karundeng.
Diketahui, diskusi yang dipandu oleh Belarmino ketua BPAN PD Tomohon ini, menghadirkan empat orang pemantik. Riane Elean, akademisi UKIT yang membahas topik dari persepektif sosiologis. Rikson Karundeng, teolog dan budayawan memetakan fenomena keminahasaan masa kini. Denni Pinontoan, akademisi IAKN Manado yang juga Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur, mengurai benang historis perjumpaan Injil dan kebudayaan di Minahasa. Sementara Pdt. Ruth Wangkai, peneliti agama-agama membahas secara khusus soal fundamentalisme agama. (*)


