PT TMS Dinilai Ancam Lingkungan di Sangihe

0
869

Penulis: Josua Wajong

Manado – Aktivitas Perseroan Terbatas (PT) Tambang Mas Sangihe (TMS) di Kabupaten Kepulauan Sangihe, dinilai menimbulkan persoalan lingkungan bagi masyarakat setempat.

Hal itu diutarakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Manado, Vandy Sasikome, kepada media ini, Kamis (25/3/2021).

“Melihat kasus ini, banyak berbenturan dengan regulasi. Yang perlu diingat adalah efek lingkungan atau resiko dari pertambangan itu sendiri,” kata Sasikome.

“Dengan melihat peta geografis dari tanah yang akan ditambangi oleh PT TMS itu adalah setengah daratan besar Sangihe. Efek dari tambang ini nantinya sangat-sangat merugikan masyarakat Sangihe khususnya,” lanjutnya.

Menurutnya, alasan konkret salah satunya pada persoalan limbah.

“Belum lagi efek terhadap lingkungan hidup, hutan yang nantinya akan dibabat untuk pertambangan. Ekosistem alam nantinya akan rusak. Tambah lagi, hasil limbah dari pertambangan yang sangat berbahaya untuk potensi kekayaan bawah laut yang mengelilingi tambang tersebut. Mayoritas masyarakat di desa tersebut berprofesi sebagai nelayan untuk mencari sumber kehidupan,” ungkap Sasikome.

Diakuinya, aktivitas pertambangan tidak selalu berdampak negatif tetapi prosesnya harus sesuai dengan konstitusi negara.

“Memang persoalan tambang tidak selalu hal yang negatif. Ia baik kalau mengikuti perkembangan teknologi. Seperti saat ini kebutuhan atau konsumsi akan hasil tambang seperti emas, nikel, dan lain-lain  sangat dibutuhkan. Tetapi di negara kita Indonesia yang mengatur itu jelas tertuang dalam pasal 1 ayat 3  UUD 1945,” tegas Sasikome yang juga Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

“Jangan sampai kekayaan alam digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran kapitalis atau pemilik modal,” tutupnya. (Son)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here