Perbaiki Waruga Rusak, Taroreh: Ini Panggilan Hati dan Tak Ada Tangan Pemerintah

0
1223

Penulis: Josua Wajong

Tondano – Pemberian diri merupakan alasan Christian Rinto Taroreh dan kawan-kawan mau memperbaiki situs waruga di Wanua Ure Lota, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa. Hal itu diutarakan Taroreh, kepada media ini, Senin (29/3/2021).

“Jadi waruga itu waruga dari Opo Lawit Potot. Dia ini salah satu pemimpin di Lota. Di era kepemimpinan Sahiri Parengkuan. Itu waruga kalo info yang kita dapa, itu pertama kali dibongkar sekitar tahun 1982. Kemudian tahun 1987 waruga itu kembali dibongkar. Itu berdasarkan informasi masyarakat setempat,” ujarnya.

Kata Taroreh, awalnya waruga itu sudah pernah diperbaiki di tahun 2010. Kerja mereka hari ini hanya melanjutkan dan merampungkan kembali, sesuai petunjuk-petunjuk leluhur.

“Tanggal 29 Maret 2010, para leluhur memberi petunjuk untuk memperbaiki waruga itu. So depe waktu mo perbaiki jadi torang perbaiki waktu itu. Dapa petunjuk waktu itu dia musti gale sekaluar dengan teman-teman komunitas  budaya. Akhirnya di tahap pertama itu dilakukan pemugaran. Dan torang cuma da sesambung dia pe penutup waruga yang ancor,” ucapnya.

“Kemudaian yang tahap kedua, kita pugar kembali seusai petunjuk leluhur kase kaluar depe badan waruga. Pas torang gale se turun, torang lia depe kondisi badan waruga memang benar-benar ancor. Kedua, depe dalam waruga so punung sampah. Akhiranya selama hampir dua minggu torang, teman-teman pegiat budaya komitmen memperbaiki waruga tersebut atas dasar panggilan hati,” jelasnya.

Diakui Taroreh, landasan utama gerakan itu ialah kepekaan, memberi diri, untuk mempertahankan identitas Minahasa bagi generasi selanjutnya.

“Kalau bacira budaya, adat, itu panggilan hati. Tentunya panggilan hati ini harus dijawab dengan pemberian diri. Artinya bagini, situs-situs budaya ini penanda torang pe peradaban di masa lalu. Jadi penting skali for torang pe ke depan, torang hari ini, deng generasi selanjutnya. Dengan bagini torang dapa lia torang pe orang-orang tua, bagimana dorang pe kehidupan sehari-hari, dorang pe peradaban sampe di tingkat itu,” ungkap Taroreh.

Ditegaskannya, gerakan dirinya bersama komunitasnya tersebut dari awal memang murni pemberian diri dan tidak mengharapkan, serta tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Jadi soal-soal ini memang musti ba tantu butul-butul. Penting juga dari upaya bersama ini torang mo setunjung tu nilai-nilai Minahasa masih ada. Seperti baku bantu, masa-sawangan, serta nilai-nilai kearifan lokal laeng di Minahasa.  Kerja-kerja ini torang patungan, ada yang kase dalam bentuk tenaga langsung, ada yang segi materi. Sekali lagi ini tanpa ada campur  tangan pemerintah. Karena ini torang pe tanggun jawab,” tandasnya.

Ia berharap, kesadaran akan pentingnya menjaga tanah, identitas, serta nilai-nilai luhur, harus menjadi tanggung jawab bersama bagi orang yang menghidupi tanah tersebut.

“Ini bukan hanya tanggung jawab masyarakat adat, melainkan tanggung jawab bersama. Harapan paling pertama for di era kekinian ini bukang cuman eksklusif tanggung jawab masyarakat adat, ini sebenarnya tanggung jawab bersama. Paling pokok dari masyarakat umum musti taru kira akang soal penanda kebudayaan ini. Musti cepat sadar,” tegasnya.

Senada dengan Taroreh, Carles Somba dan komunitas adat Kometed Tonsea dari Bitung, mengaku terlibat karena panggilan hati.

“Komitmen awal pas torang mo ba langka di budaya ialah tanggung jawab noh. Memang ada kesibukan laeng, cuman tu rasa keterpanggilan itu yang melandaskan gerakan ini,” aku Somba.

Diketahui, komuitas-komitas yang terlibat dalam upaya memperbaiki waruga di Wanua Ure Lota tersebut, Komunitas Adat Waraney Wuaya, Komunitas Adat Waraney Umbanua, Makatana Minahasa Wanua Kembes, Komunitas Adat Kumeted Tonsea, Komunitas Tou Mu’ung Wuaya. (Son)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here