Perayaan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat  Nusantara  2021, Tuai apresiasi

0
507

Penulis: Josua Wajong

Tondano – Fesival Seni Budaya mempringati Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara dan dirangkaikan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Aliansi Masyarkat Adat Nusantara  (AMAN) ke-22, Yang di selenggarakan oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesis (GAMKI) Sulawesi Utara (Sulut), Gerakan Minahasa Muda (GMM), AMAN Sulut, serta Yayasan Seni Budaya Ora Et Labora (YSL-OEL) mendapat banyak pujian.

Salah satunya datang dari Nedine Helena Sulu, selaku wakil ketua GAMKI Sulut bidang perempuan, maupun wakil ketua Dewan AMAN Nasional, Apresiasi tersebut ia sampaikan dalam sambutannya, di Benteng Moraya Tondano, Rabu (17/3/2021) yang merupakan tempat berlangsungnya kegiatan tersebut.

“Rasa terharu, serta bangga yang saya rasakan. Atas pelaksanaan perayaan hari kebangkitan masyarakat adat nusantara yang dirangkaikan dengan  HUT AMAN yang ke-22 tahun berorganisasi untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat di seluruh Indonesia,” tutur Sulu.

Alasannya, perayaan tahun ini sangat berbeda sebab kegiatan tersebut melibatkan masyarakat adat serta organisasi berbasis agama maupun gereja.

“Tadi saya telah mendengarkan pidato politik dari Sekretaris Jendral  AMAN bersama seluruh jaringan AMAN di seluruh Indonesia. Tapi memang ada situasi yang berbeda yang terjadi di Sulut. Ketika ada organisasi kepemudaan basis agama maupun gereja yang kemudian bersama sama meneyeruhkan agar perjuangan hak-hak masyarkat adat di seluruh Indonesia diperhatikan.  Melalui pengesahan Rancangan Undang Masyarakat Adat,” kata Sulu.

Ia harap, momen seperti itu terus dipertahankan karena perjuangan hak-hak masyarakat adat adalah perjaungan bersama.

“Kami mohon doa kepada kita semua agar supaya perjuangan masyarakat adat bukan hanya perjuangan masyarakat itu senidiri. Melainkan perjuangan kita berasama,” ungkap Sulu.

“Sebab jika RUU Masyarakat Adat itu disahkan itu akan membuat Negara Republik Indonesia panjang umur. Karena bineka tunggal ika sesungguhnya adalah masyarakat adat. Berbeda-beda tapi satu, beragam-ragam tapi tetap satu,” kuncinya. (Jos)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here