Mengais Upah Cuci Pakaian Demi Perjuangan Menjadi TNI

0
434
Agustinus Romindo Palense

Penulis: Matt Rey Kartorejo

Pengalaman kegagalan bisa akan membuat putus asa dan merasa sedih hingga berlarut-larut. Namun ada sejumlah orang yang dapat kembali bangkit dan menyadari, di balik kegagalan ada hikmanya.

Seperti yang dialami Agustinus Romindo Palense. Pria 21 tahun ini sudah dua kali ikut Calon Tamtama (Catam) sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), tapi ia dua kali mengalami kegagalan. Pemuda asal Desa Dodap Mikasa, Kecamatan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini pada tahun 2019 pertama kali masuk Catam. Kemudian gelombang ke dua ia kembali mencoba mewujudkan cita-citanya itu, namun kembali gagal.
Api semangat pria yang akrab disapa Romindo ini terus berkobar. Ia tak putus asa. Tujuannya hanya satu, ingin jadi prajurit TNI, mengabdi bagi nusa dan bangsa dan bisa membahagiakan orang tuanya.

Meski terus mengalami kegagalan, Romindo kembali mencoba masuk Catam pada gelombang ke tiga tahun 2021. Ini kesempatan terakhir pemuda kelahiran Dodap 30 Oktober 1999 itu.

“Saya sudah tiga kali masuk Catam. Tahun 2019 dua kali dan tahun ini saya kembali mencoba. Mudah-mudahan akan tercapai cita-cita saya,” ujar Romindo penuh harap.

Agustinus Romindo Palense

Romindo menuturkan, motivasinya menjadi prajurit TNI karena ingin memberi diri untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus membahagiakan ibunya yang sudah susah paya membesarkannya.

Dituturkan, setelah bapaknya meninggal, ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, terpaksa ibunya bekerja sebagai tukang cuci pakaian, tanpa ada rasa gengsi sedikitpun.

“Bapak meninggal tahun 2013, saat itu saya baru umur 12 tahun. Saya pun harus membantu ibu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dengan kerja membersihkan kebun orang. Sementara ibu saya kerja mencuci pakaian,” tutur anak ke-2 dari empat bersaudara ini.

Apapun pekerjaan ia lakukan demi membahagiakan ibunya. Dia rela melakukannya dengan tulus.

“Selain kerja membersihkan kebun orang, saya sering kerja bikin kopra. Asalkan menghasilkan uang,” ungkap alumni SMA Motongkad ini.

Cita-cita Romindo menjadi seorang prajurit TNI mendapat dukungan penuh dari ibunya, Helmina Yongenger (44). Harapan dan doa selalu dipanjatkan kepada Tuhan agar apa yang menjadi mimpi anaknya suatu saat kelak akan menjadi kenyataan.

“Saya hanya berharap anak saya bisa jadi (tentara, red) dan mengabdi bagi negara kita. Saya selalu bilang sama anak saya, jangan bosan dan terus berdoa. Saya tak henti-hentinya berdoa demi anak saya, mudah-mudahan akan tercapai apa yang menjadi cita-cita anak saya. Supaya Romindo yang akan melihat kehidupan saya kelak,” tutur ibu Romindo sambil meneteskan air mata.

Di depan teras rumah yang sangat sederhana, suasana jadi hening. Ibu Romindo kemudian melanjutkan ceritanya. Sembari mengusap air mata, ia mengatakan jika pengurusan berkas anaknya untuk masuk Catam adalah hasil dari mencuci pakaian.

“Pengurusan berkas Romindo itu hasil dari mencuci pakaian dan hasil dari kerja Romido membersikan kebun orang. Mudah-mudahan anak saya akan jadi tentara, itu yang saya sangat harapkan,” ucap Helmina penuh harap.

Doa teman dan keluarga pun selalu mengiringi perjuangan Romindo. Semoga kerja keras dan cita-citanya kelak akan berbuah manis. Teruslah berdoa dan berusaha, sebab selalu ada harapan bagi mereka yang sering berdoa dan selalu ada jalan bagi mereka yang semangat berusaha. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here