Kritisi Arogansi Petugas, Pengusaha Mengeluh ke Pemkot Tomohon

0
1112
Kevin Wondal

Penulis: Josua Wajong

Tomohon – Nada kritis berbagai elemen masyarakat menyasar aparat sejumlah lembaga pemerintah di kota Tomohon, yang dinilai arogan saat melaksanakan tugas. Seperti yang dituturkan pemuda penggerak, Kevin Wondal.

Pengusaha kopi asal Tomohon yang terkenal keuletannya ini, menilai apa yang dilakukan beberapa oknum petugas terlihat tidak punya etika dan sopan santun saat penertiban tempat-tempat usaha. Itu ikut dialaminya di kedai tempat ia berusaha.

“Saat masuk di kedai, mereka menegur dengan nada yang kasar. Bukan tegas. Terlihat seakan-akan berwibawa tapi kasar,” ungkapnya, kepada media ini Selasa (19/1/2021).

Menurutnya, bahkan saat customer (pelanggan,red) sementara minum kopi dan makan, langsung dipaksa pulang. Wondal berpendapat, itu adalah hak pelanggan untuk menikmati hidangannya karena sudah membayar.

“Saya sangat menghargai customer. Karena sudah membayar, jadi saya tunggu sampai mereka pergi. Maka jangan dipaksa, karena itu hak mereka,” tegasnya.

Bahkan menurutnya, pemilik rumah saja dilarang petugas untuk bermain billiard.

“Kalau kedai ini sudah ditutup, ini sudah jadi rumah saya sendiri. Jadi kalau saya ada tamu di dalam, mereka tidak bisa suruh pulang. Toh, kami di sini tidak sampai setengah dari batas jumlah yang ditetapkan kalau dalam ruangan,” ketusnya.

“Ketika sudah ditutup, berarti saya sudah tidak akan menerima orderan apapun. Saya tinggal menunggu mereka pulang. Kan torang punya rasa kemanusiaan le to,” tukas Wondal.

Dia juga mengkritisi para petugas soal prokes yang malah tidak ditaati.

“Mereka datang ramai-ramai. Malahan mereka sendiri yang membuat tempat ini padat. Kenapa mereka berkumpul begitu, sementara masyarakat mereka marah kalau berkumpul. Lalu mereka juga tidak cuci tangan saat masuk, sementara setiap customer yang datang mesti cuci tangan,” sambungnya.

Wondal pun meminta ketegasan dari petugas soal keadilan. “Ada di tempat lain mereka cuma tegur. Kalo pa kita, dong tunggu kasiang sampe dorang pulang samua,” keluhnya.

Dirinya juga mengaku, sebagai pelaku usaha merasa lelah dengan kebijakan yang ia nilai tidak bijak ini.

Wondal mengungkapkan, bersama pelaku usaha lainnya mengalami kerugian dengan kebijakan ini. “Maka dari itu, kami berharap pemerintah kota (pemkot) Tomohon lebih bijak lagi dalam menentukan aturan-aturan yang akan ditetapkan, dan tidak menguntungkan pihak tertentu,” pintanya.

“Semoga saran kami ini dapat dilihat, diperhatikan dan diwujudkan oleh pemkot Tomohon,” tandasnya. (Son)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here