Kopi Pinogu dan Diskusi Politik di Rumah Sadam

0
613

Penulis: Matt Rey Kartorejo

Hari mulai gelap, Desa Bulawan Satu, kala itu terasa sepi. Suara rintik hujan terdengar menetes di atap rumah.

Kami dan beberapa kawan wartawan rencananya akan ke Desa Buyat, tiba-tiba memutuskan mampir di kediaman Samsudin Dama, saat melintas di depan rumah salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Darah (DPRD) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) itu.

Bersua, kami berbincang ringan dengan Sadam. Nama populer politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini. kurang lebih 20 menit, suara azan mulai berkumandang. Wakil rakyat itu izin sejenak untuk salat Magrib.

“Duduk dulu ya, saya tidak lama mau salat Magrib,” kata pria yang akrab disapa Papa Caca itu.

Usai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim, Sadam kembali bergabung dengan kami yang duduk di teras depan. Ia menawarkan untuk mencicipi kopi Pinogu, kopi jenis robusta organik yang berasal dari pegunungan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Kharisma, Anugrah, Baim, Rikson, para jurnalis dari Minahasa dan Sunadio serta Dewan, terlihat merespon antusias tawaran menikmati kopi dari daerah lumbung jagung.

Selain kopi, Sadam juga menyajikan kue bagea, kue kering khas dari Sulawesi Utara. Mataku tak beranjak dari sajian itu. Maklum saya sangat menyukai kue yang terbuat dari sagu itu.

Foto: Kopi Pinogu dan kue Bagea yang disajikan Sadam di kediamannya Desa Bulawan Satu, Krcamatan Kotabunan.a

Perbincangan kami mulai berlanjut. Cerita tetang politik jadi topik utama kami lepas pukul 18.00 Wita. Tangan saya sesekali masuk dalam stoples kue, mengambil bagea. Begitu juga teman-teman pewarta dari Minahasa, meski sedikit malu-malu, mereka juga ikut mencicipi kue yang disajikan Papa Caca.

Disuguhi Kopi Pinogu

Saat asik-asiknya berbincang tentang isu politik, kopi Pinogu pun muncul di depan mata.

“Coba kalian rasa ini kopi. Namanya kopi Pinogu, saya bawa dari Gorontalo,” kata Sadam menawarkan kepada kami.

Kami pun mulai mencicipi kopi itu. Dicampur sedikit susu, cita rasa dari kopi itu lebih terasa nikmat.

“Bagaimana rasanya, enak?” tanya Sadam.

Aku hanya mengangakat kepala tanpa bersuara lebih karena sangat menikmati kopi itu. Cita rasa yang khas dan menyegarkan, membuat kopi itu sangat berbeda dengan kopi lainnya. Kekentalan yang kuat dan aromanya yang harum dapat menambah kenikmatan.

“Kopi ini dalam satu saset harganya 60 ribu rupiah. Dan untuk mendapatkannya di Kabupaten Bone Bolango, jarak yang ditempuh kalau naik ojek harus mengeluarkan uang 600 ribu untuk ongkos ojek,” jelas Sadam.

Usai menjelaskan kopi Pinogu, dan bagaimana cara mendapatkan kopi yang sangat memanjakan lidah itu, perbincangan kami kembali mengarah ke isu politik.

Asik-asiknya membahas isu politik, handphone ku berdering. Gunawan Mamonto yang menelepon. “Utat, masih lama lagi?“ tanya Gunawan.

“So nda lama, napa torang somo ka sana,” jawabku sedikit menghibur.

Kami dan Gunawan memang sudah janjian sebelumnya dan ia sudah menunggu di Desa Buyat.

Kami terus melanjutkan pembicaraan tentang politik. Elektabilitas para bakal calon kepala daerah di Desa Kotabunan dan Bulawan Bersatu, jadi topik utama.

Waktu terus berlalu, obrolan kami lebih terasa asik. Gunawan tetap menghubungi saya tapi kami masih terus melanjutkan perbincangan.

Sadam duduk di depan pintu rumah menghadap ke arah jalan. Sepertinya ia masih ingin berbincang-bincang dengan kami.

“Bilang sama teman kalian yang menelepon itu, sabar karena bukan hanya dia yang perlu tapi saya juga masih suka berbincang dengan kalian,” ujar Sadam sedikit bercanda.

Obrolan terus berlanjut, Sadam menambah kopi Pinogu di cangkirnya. Kami pun mulai menyinggung para kandidat yang akang bertarung di Boltim sebagai kepala daerah. Elektabilitas Amalia Landjar jadi sasaran utama yang jadi pembahasan.

Sadam berujar, jika suara Amalia Landjar di Desa Kotabunan dan Bulawan Bersatu masih sangat kuat. “Saya katakana kalau suara Amalia di Desa Kotabunan dan Bulawan Bersatu, ‘di atas angin’. Artinya Amalia masih sangat kuat. Ini berbicara di Kecamatan Kotabunan, khususnya Kotabunan dan Bulawan. Ini saya brani bilang begini, karena saya pelaku poitik dan saya turun langsung di lapangan jadi saya tahu persis,” ketus Sadam.

Waktu telah menunjukkan pukul 19.00 Wita itu. Perbincangan tambah menarik. Istri Sadam yang menawarkan nasi kuning untuk makan malam, kami tolak sebab sudah terbawa suasana. Pemaparan politisi partai ‘Matahari Terbit’ itu jadi alasan sehingga apa yang ditawarkan Mama Caca (Istri Sadam), sudah tidak dihiraukan.

“Saya sebagai kader PAN, tentunya akan all out ke Amalia,” tegas Sadam.

Handphone Dio Djubair berdering. Ternyata Gunawan Mamonto yang menelepon. Dia mendesak agar kami cepat ke Desa Buyat.

Akhirnya kami putuskan untuk mengahiri pembahasan ringan asik itu. Kami pamitan kepada Sadam, dan bergerak menuju Desa Buyat, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Boltim, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here