Joli dan kisahnya menaklukan lautan

0
413
Joli Mandiangan

Penulis: Matt Rey Kartorejo

Di sebuah dapur sederhana, tepatnya di Desa Bulawan, Joli berkisah tentang peristiwa penting di hidupnya. Sebuah kisah yang menimpa ia dan empat kawannya sesama nelayan saat melaut.

Begini kisahnya. Siang itu, jarum pendek pada jam sudah berdiam di angka dua. Lima orang nelayan asal Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan, menggunakan 3 perahu kecil, bertolak ke tempat memancing di laut.

Mereka adalah Joli Mandiangan, Ading, Yan, Nofry, dan Lius. Joli, berperahu dengan Ading, kakak iparnya. Yan bersama Nofry, sementara Lius menggunakan perahu sendiri.
Setelah dua jam perjalanan dari Desa Bulawan, mereka tiba di lokasi menangkap ikan.

Di sana, mereka langsung memasang kail. Mereka pun memulai sebuah aktivitas yang disebut masyarakat sekitar dengan istilah ‘mangael’.

Foto: Perahu yang dipakai Joli Mandiangan.

Saat sedang asik-asiknya mengail ikan, Joli merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Firasatnya berkata akan ada angin kencang. Hal ini ia ketahui dengan melihat kaki Gunung Tongsile yang sudah berwarna hitam.
Joli memang paham melihat tanda alam. Ia sangat berpengalaman soal tanda-tanda tersebut.

Saat melihat tanda tersebut, muncul hasrat untuk segera pulang, tapi ia dan kawan-kawannya masih ketagihan dengan ikan yang begitu banyak. Akhirnya, mereka tetap bersikap apatis dan terus memancing.
“Saya sudah lihat ke arah Gunung Tongsile. Angin Barat yang berbentuk pohon sangat kelihatan tapi lantaran masih suka memancing, kami tetap bertahan dan terus memancing,” kata Joli.

Tak berselang lama, tiba-tiba mereka diterjang angin kencang dan gelombang tinggi. Rasa takut mulai menghantui mereka berlima. Joli berusaha menghidupkan mesin perahu ‘katinting’ dan mengarahkannya menuju pantai. Teman-temannya pun mengikuti dari belakang.

Joli berusaha melawan derasnya arus dan gelombang yang menerjang mereka.
Sekitar pukul 19.00 Wita, mereka melihat cahaya lampu milik perusahan Afoset, di desa Lanut. Mereka terus memacu laju perahu. Demi menggapai pantai, mereka fokus pada cahaya tersebut. Setelah setengah jam bertarung, menaklukan angin dan gelombang, mereka berhasil mencapai pantai Nuangan. Tak lama di sana, para penakluk laut ini kembali ke Desa Bulawan.
26 Juni 2020 menjadi satu hari yang terus diingat oleh Joli dan kawan-kawannya.
Meski tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun saat kejadian semua orang menjadi begitu panik. Termasuk Joli. Dalam kepanikannya, ia sempat menangis. Joli mengaku sangat cemas, namun ia tak memperlihatkan itu kepada teman-temannya.

“Untung mesin perahu kami tidak macet, kalau macet, saya rasa kami sudah di bawah arus sampai ke Batang Dua. Kakak ipar saya menangis lantaran takut. Saya juga sudah takut tapi saya tidak kasih kentara sebab mereka akan lebih ketakutan,” ujar Joli.

Foto: Tiga perahu yang selamat dari terjangan angin dan gelombang.

Usai berkisah tentang gempuran angin dan gelombang yang menerjang mereka, Joli lanjut bercerita. Ia menuturkan tentang dua hal yang sangat menakutkan saat berada di lautan bebas.

Menurutnya, hal pertama yang sangat menakutkan yaitu ikan “Poparo Mata Merah”.
“Sebab Ikan ini kalau melihat cahaya mengilap di dalam air, ia langsung makan. Apalagi kalau melihat kaki manusia. Sehingga harus hati-hati sebab giginya sangat tajam. Pernah perhau saya rusak di tengah laut, saya terpaksa loncat ke air. Meski perasaan takut begitu tinggi, tapi lantaran keadaan saya pasrah sebab kalau tidak diperbaiki perahu saya, akan tambah susah lagi,” ungkap Joli.

Bagi Joli, bajak laut menjadi hal kedua yang sangat menakutkan saat berada di laut lepas. Ia ternyata pernah sekali melihat bajak laut.
“Pernah kami melihat ada bajak laut. Dan saat melihat mereka, kami langsung menjauh sejauh mungkin,” tutur Joli. (Rey)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini