Capil Kapan Stabil?

0
416
Dewan Paputungan

Penulis: Dewan Paputungan

Masih segara dalam ingatan, gedung Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Kala itu masih di gedung yang lama. Kantor pemerintah yang bertugas melayani langsung masyarakat ini belum berpindah ke lokasi sakarang.

Ketika itu saya mengurus akta untuk kelahiran anak pertama. Kalau mau jujur, pengalaman itu cukup mengesalkan. Saya harus jadi seperti setrika, bolak-bali Kotabunan-Tutuyan, hanya untuk mengabadikan nama anak saya di negara tercinta kita.

Pernah saat saya berada di kantor Disdukcapil, sempat ada seorang pejabat yang kebetulan datang di tempat itu. Sepertinya beliau juga sedang mengurus sesuatu, tapi tidak perlu menunggu di belakang operator. Hehehe…

Sebelum pemilihan kepala daerah (pilkada) bergema di 2020, saya kembali datang ke dinas itu untuk menjemput akta lahir, tapi sayangnya belum juga ada. Mungkin tangan saya tidak peka. Mungkin. Ya, akhirnya akta lahir itu jadi juga, meski saya sudah cukup lama menikmati rasa jengkel.
Kini, di dinas yang sama namun pada ruang yang beda, karena gedung Disdukcapil telah pindah, dua orang keponakan saya akan diabadikan kembali namanya di daftar negara. Ada harapan besar dalam hati, semoga pengalman seperti lalu-lalu tak akan terulang. Barangkali, pelayanan di instasi ini tak lagi serupa seperti sebelumnya.

Kali ini, setelah dihitung-hitung, ternyata baru empat kali saya balik dalam sebulan. Walhasil yang dinanti belum juga ada. Beruntung, rasa jengkel yang sangat pernah saya alami di tempat itu, jadi kali ini sepertinya belum seberapa.

Alasanya sih, pertama mesin di Disdukcapil belum stabil alias ada gangguan. Tapi setelah beberapa kali bolak-balik, mesin katanya belum beroperasi dengan baik. Ya, intinya belum jadi makanya apa yang ingin saya ambil di tempat itu belum juga ada.

Berpikir supaya tidak bolak-balik, saya meminta bantuan staf di tempat itu. Coba titipkan kalau bisa membantu saya untuk memeriksa akta lahir tersebut. Namun jawabannya belum berubah. Masih sama, mesin belum jadi.

Pada 12 April 2021, saya kembali menyambangi Disdukcapil Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Alangkah terkejutnya, berkasnya ada di dalam lemari bagian bawah. Kalau duduk di kursi, berkas itu setara dengan lutut. Berkasnya masih di ruang depan, yang artinya belum masuk ke ruang operator.

Berkas itu sebelumnya saya berikan kepada salah satu tenaga honorer, seorang pegawai di situ. Saat itu coba langsung menelopon tenaga honorer tersebut untuk menanyakan keberadaan berkas yang diberikan. Ya, ternyata honorer itu masuk daftar “dirumahkan”. Dia pun menjawab tentang berkas saya sebenarnya. Dengan tambahan bonus alasan lagi, “Tunggu saja mesin yang baru akan datang”, sembari memberikan nomor HP-nya.

Lagi-lagi muncul pikiran dalam benak, mungkin karena tangan saya kurang peka.

Di titik ini, rasa marah sepertinya sudah menjauh. Saya benar-benar tidak merasa jengkel lagi. Tapi hanya membayangkan bagaimana dengan orang lain yang tempat tinggalnya jauh dari kantor Disdukcapil, dan mengalami peristiwa serupa dengan saya. Berapa biaya yang harus mereka keluarkan untuk operasionalnya. Biaya perjalanan, makan, minum dan lain-lain.

Saya juga sempat membayangkan, bagaimana jika mereka masyarakat kecil seperti kami. Hidup pas-pasan. Butuh perjuangan lebih untuk sekedar mencari biaya tambahan ketika harus melakukan perjalanan jauh.
Kalau seandainya ditanya apa masukan bagi pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut, barangkali di otak saya cuma terpikir hal sederhana. Saya mau usulkan ke pihak pemerintah daerah untuk membangun kos-kosan yang dilengkapi kantin kecil buat masyarakat yang datang ke Disdukcapil. Kalau bisa gratis, hingga dinas ini kembali stabil beroperasi melayani masyarakat.

Untuk masyarakat seperti saya, barangkali juga tak cukup hanya bersabar. Harus bisa introspeksi diri. Harus bisa mengasah tangan supaya lebih peka. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here