Calon Kepala Daerah Diminta Tak Politisir Simbol Kebudayaan Minahasa

0
976
Rinto Taroreh

Penulis: Josua Wajong

Tomohon – Para calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang kini tengah bertarung di kaki Lokon, diharapkan bisa memperhatikan etika budaya. Pasangan calon (Paslon) wali kota dan wakil wali kota, Jilly Gabriella Eman-Virgie Baker (JGE-VB), Carrol Senduk-Wenny Lumentut (CS-WL) dan Robert P.A. Pelealu-Fransicus Soekirno (ROSE) diingatkan agar tidak mempolitisasi situs sejarah budaya yang ada di kota Tomohon.

Hak ini ditegaskan budayawan Minahasa, Rinto Taroreh, Kamis (5/11). Dia berharap, selama tahapan pemilihan kepala daerah (Pilkada) berjalan, Paslon JGE-VB, CS-WL dan ROSE bisa lebih bijak. Maksudnya, dapat menghargai situs sejarah budaya sebagai penanda peradaban leluhur orang Minahasa.

Berbicara simbol-simbol kebudayaan, menurut Taroreh, itu sudah ada sejak peradaban awal di masa lalu. Situs budaya merupakan penanda identitas orang-orang Minahasa. Misalnya waruga, relief-relief, patung dan lain sebagainya. Ini artinya, simbol kebudayaan atau penanda identitas merupakan milik semua, bukan cuma kelompok tertentu. Penanda identitas budaya memang selayaknya dijaga dan dilindungi. Tetapi jangan dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

“Soal kepentingan-kepentingan politik hari ini, janganlah membawa-bawa atau bahkan mempolitisasi situs sejarah budaya. Kalau simbol budaya berupa pakaian, boleh digunakan semua paslon. Akan tetapi, waruga, patung dan situs-situs sejarah lainnya, tidak boleh dimanfaatkan sebagai klaim politik kelompok tertentu. Sebab, penanda identitas budaya milik banyak orang, bukan hanya kelompok,” tegas Taroreh.

Malahan menurutnya, melalui Pilkada yang saat ini masih bergulir, hendaknya membuat publik semakin berbudaya. Kepada semua paslon ia pun berpesan untuk menjadi contoh yang baik bagi masyarakat. Jangan hanya memanfaatkan kebudayaan demi kepentingan pribadi. Siapa pun calon yang terpilih nanti, justru punya tugas tanggung jawab mengangkat nilai-nilai budaya.

Soal pengembangan, perlindungan dan pelestarian situs dan kebudayaan sangat penting mendapat perhatian dari wali kota dan wakil wali kota Tomohon ke depan. Sebagai pegiat budaya Minahasa, Taroreh menaruh harapan besar kepada pemimpin kota Tomohon berikutnya untuk memperhatikan aspek budaya dan situs-situs sejarahnya.

“Tentunya bukan hanya kepada pemerintah. Namun bagi semua pegiat budaya, bahkan masyarakat luas, memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga penanda peradaban leluhur di kota Tomohon,” tandasnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini